Hubungan-Hubungan Karma

silhouettes-812125_640

Dari Hubungan-Hubungan dalam Era Baru

Channeling Yeshua disalurkan oleh Pamela Kribbe

Dalam konteks ini saya ingin menyampaikan sesuatu tentang hubungan karma. Dalam hal ini saya maksud hubungan-hubungan antara orang yang telah mengenal satu sama lain di masa kehidupan lain dan yang telah mengalami emosi-emosi intensif di antara mereka. Ciri khas dari hubungan karma semacam ini adalah di mana pasangan-pasangan membawa emosi-emosi yang belum terselesaikan di dalamnya seperti rasa bersalah, ketakutan, ketergantungan, cemburu, kemarahan atau perasaan lainnya sejenis itu. Karena beban emosional yang belum terselesaikan ini, mereka merasa tertarik satu sama lain dalam inkarnasi berikutnya. Tujuan untuk kembali bertemu ini adalah menyediakan peluang guna menyelesaikan isu tersebut. Ini terjadi dengan menciptakan kembali isu-isu yang sama dalam periode yang singkat. Ketika mereka pertama kali bertemu, “pemain-pemain” karma ini merasa desakan yang kuat untuk lebih dekat satu sama lain dan setelah beberapa saat mereka mulai mengulang pola peran-peran emosional lama mereka. Arena sekarang telah ditata untuk menghadapi isu-isu lama secara baru dan memungkinkan untuk menanganinya dengan cara yang lebih tercerahkan. Tujuan spiritual pertemuan pembaharuan ini adalah memberi kedua belah pihak untuk melakukan pilihan-pilihan/cara lain, dibanding yang telah mereka lakukan dalam masa kehidupan sebelumnya.

Saya ingin memberi contoh dalam hal ini. Bayangkan seorang wanita yang dalam masa kehidupan sebelumnya memiliki suami yang sangat menguasai dan mengatur. Untuk sementara ia menerima hal itu, tapi pada titik tertentu perempuan ini memutuskan hal itu cukup dan ia mengakhiri hubungan itu. Kemudian suaminya melakukan bunuh diri. Perempuan itu merasa menyesal. Ia percaya bahwa ia bersalah akan hal itu. Apakah tidak seharusnya ia memberi suaminya peluang sekali lagi? Ia membawa rasa bersalah ini di sepanjang sisa hidupnya.

Dalam masa kehidupan lain mereka bertemu lagi. Ada daya tarik yang sulit dimengerti di antara mereka. Mula-mula sang pria bersikap sopan dan sang wanita menjadi pusat perhatiannya. Ia memuja wanita tersebut. Mereka mulai menjalin hubungan. Tapi sejak itu sang pria bertambah cemburuan dan bersikap menguasai. Ia mencurigai sang wanita tidak setia. Dan wanita ini mengalami konflik batin dalam dirinya. Ia marah karena telah dituduh secara tidak benar, tapi ia juga merasa kewajiban yang aneh untuk memaafkan dan memberi sang pria peluang baru. Dia adalah pria yang terluka, demikian pikirnya; dia tidak dapat bertindak lain, karena pria itu merasa takut ditinggalkan. Mungkin saya bisa menolongnya mengatasi hal tersebut. Dengan cara ini perempuan tersebut membenarkan tindakannya, tapi pada kenyataannya ia mengijinkan batas-batas pribadinya dilangkahi. Hubungan memiliki pengaruh negatif terhadap rasa menghargai diri sendiri perempuan itu.

Pilihan paling membebaskan bagi wanita ini sekarang adalah mengakhiri hubungan dan pergi menempuh jalannya sendiri tanpa merasa bersalah. Rasa sakit dan ketakutan suaminya bukan tanggung jawabnya. Rasa sakit suaminya dan rasa bersalah wanita ini telah membawa pada hubungan yang destruktif. Hubungan mereka sudah dibebani secara emosional dari masa kehidupan yang lain. Makna dari pertemuan pembaharuan adalah dimana perempuan ini harus belajar melepaskan hal-hal tanpa merasa bersalah, dan sang pria harus belajar untuk mengatasi perasaannya sendiri. Jadi solusi nyata adalah dengan memutuskan hubungan. Solusi bagi karma sang wanita adalah melepaskan rasa bersalahnya. Kesalahan yang dilakukannya pada masa kehidupan sebelumnya bukan karena ia meninggalkan suaminya, melainkan bahwa ia merasa bertanggung jawab terhadap aksi bunuh diri yang dilakukan suaminya. Kedatangan istri tersebut dalam masa kehidupan ini adalah untuk menghadapi suaminya lagi dengan rasa sakit dan ketakutan yang dialami pria tersebut, dan menawarkan pria ini kesempatan untuk menerima emosi-emosinya dan bukannya melarikan diri dari itu.

Kalian dapat mengenali pertemuan bersifat karma lewat kenyataan bahwa kalian cepat merasa keakraban yang mendalam terhadap seseorang. Seringkali juga ada saling ketertarikan, sesuatu yang “mendesak” dalam atmosfir, yang memaksa kalian untuk bersama dan mengenal satu sama lain. Jika kesempatan itu tersedia, ini adalah ketertarikan kuat yang dapat tumbuh menjadi hubungan cinta atau rasa jatuh cinta yang sangat kuat. Emosi-emosi yang kalian alami dapat begitu luar biasa, di mana kalian berpikir kalian telah bertemu dengan jiwa kembar kalian. Namun hal-hal tidak terjadi seperti yang tampak. Dalam hubungan semacam itu selalu ada masalah-masalah, yang cepat atau lambat akan muncul. Sering pasangan-pasangan menjadi terlibat dalam konflik psikologis yang secara utama terdiri dari kekuasaan, pengawasan dan ketergantungan. Dengan demikian mereka mengulang tragedi yang di bawah sadar telah mereka kenal dari masa kehidupan terdahulu. Di masa kehidupan sebelumnya mereka mungkin pasangan kekasih, orang tua dan anak, pimpinan dan pekerja, atau jenis hubungan lainnya. Tapi selalu mereka merasakan rasa sakit dalam batin yang disebabkan oleh yang lain dari tindakan-tindakan tidak setia, penyalahgunaan kekuasaan, atau secara kontras, rasa pengabdian yang terlalu kuat. Ada hubungan emosional amat dalam di antara mereka yang memicu luka yang mendalam dan trauma emosional. Itu sebabnya mengapa kekuasaan daya tarik tepat seperti halnya kecenderungan yang tidak dapat dijelaskan, dapat muncul begitu kuat ketika mereka bertemu kembali dalam inkarnasi yang baru.

Undangan spiritual bagi semua jiwa yang terbelit secara energetis dalam hubungan semacam itu adalah melepaskan yang lainnya dan menjadi “kesatuan dengan dirinya sendiri”, bebas dan independen. Hubungan-hubungan karma yang disebutkan di sini hampir selalu bukan merupakan hubungan jangka panjang, stabil, penuh cinta. Hubungan tersebut cenderung bersifat destruktif ketimbang menyembuhkan. Sangat sering tujuan dasar dari pertemuan kembali adalah untuk berhasil melepaskan satu sama lain. Ini sesuatu yang tidak dapat dilakukan dalam satu atau beberapa masa kehidupan lainnya, tapi kini ada peluang lain untuk melepaskan satu sama lain dalam cinta.

Jika kalian sendiri berada dalam sebuah hubungan yang ditandai oleh emosi-emosi intensif yang menyebabkan banyak rasa sakit dan kesedihan, tapi di mana kalian sejauh ini tidak dapat membebaskan diri dari itu, tolong sadarilah bahwa tidak ada yang mewajibkan kalian untuk tetap bersama yang lain. Demikian juga sadarilah bahwa emosi-emosi yang intensif lebih sering mengacu pada rasa sakit yang mendalam dibanding rasa saling mencintai. Energi dari cinta pada dasarnya tenang dan damai, ringan dan menginspirasi. Ia tidak berat, tegang dan tragis. Ketika sebuah hubungan menemukan tanda-tanda tersebut, sudah waktunya untuk melepaskan dibanding “berusaha memperbaiki” sekali lagi.

Kadang-kadang kalian meyakinkan diri sendiri bahwa kalian harus tetap bersama karena kalian “berbagi karma” dan kalian harus “mengolah hal-hal bersama”. Kalian menggunakan sifat alami karma sebagai argumen untuk memperpanjang hubungan, sementara kalian berdua sangat menderita karenanya. Tapi kenyataannya, kalian sedang mendistorsi konsep karma. Kalian tidak dapat mengolah karma bersama; karma adalah hal yang bersifat individual. Karma yang berlangsung dalam hubungan-hubungan seperti yang disebutkan sebelumnya, sering meminta kalian untuk melepaskan sepenuhnya, di mana kalian harus melepaskan diri dari hubungan-hubungan semacam itu untuk membuat kalian menyadari, bahwa kalian dalam diri kalian sendiri adalah utuh. Sekali lagi, menyelesaikan karma adalah sesuatu yang kalian lakukan sendiri. Orang lain mungkin memicu atau mengguncang sesuatu dalam diri kalian yang menciptakan banyak drama di antara kalian. Tapi tetap menjadi tugas dan tantangan kalian sendiri untuk mengatasi rasa sakit dalam diri kalian, bukan rasa sakit atau masalah orang lain. Kalian hanya bertanggung jawab terhadap diri kalian sendiri.

Ini penting untuk disadari karena itu adalah salah satu jebakan utama dalam hubungan-hubungan. Kalian tidak bertanggung jawab bagi partner kalian dan partner kalian tidak bertanggung jawab bagi kalian. Solusi bagi masalah-masalah kalian tidak terletak pada tindakan orang lain. Kadang-kadang kalian juga terhubung dengan anak batin pasangan kalian, bagian rasa sakit emosional dalam batinnya, di mana kalian merasa kalian adalah satu-satunya yang dapat “menyelamatkan” itu. Atau sebaliknya pasangan kalian mungkin mencoba hal yang serupa terhadap kalian. Tapi ini tidak akan berfungsi. Kalian akan memperkuat emosi-emosi ketidakberdayaan dan rasa menjadi korban pada diri orang lain, sementara hal yang jauh lebih membantu adalah jika kalian menarik garis batas dan mengurus diri kalian sendiri. Itu adalah tujuan kalian untuk dapat merasa utuh dan lengkap, benar-benar menjadi diri kalian sendiri. Itu adalah kondisi paling penting bagi sebuah hubungan yang benar-benar memuaskan.

Hubungan-hubungan yang Menyembuhkan

Ada hubungan-hubungan yang menyembuhkan dan ada hubungan-hubungan yang destruktif. Sebuah karakter dari hubungan yang menyembuhkan adalah pasangan-pasangan saling menghormati seperti mereka menghormati diri mereka sendiri, tanpa mencoba saling mengubah. Mereka merasa gembira berada satu sama lain tapi mereka tidak merasa hal yang berat, terpisah atau kesepian jika pasangannya tidak ada. Ini jenis hubungan yang menawarkan saling pengertian, dukungan dan semangat antar pasangan kekasih tanpa mencoba mengatasi masalah-masalah mereka. Ada kebebasan dan kedamaian dalam hubungan ini. Tentu saja mungkin terjadi kesalahpahaman kadang-kadang, tapi emosi-emosi yang ditimbulkannya hanya bersifat singkat. Kedua pasangan bersedia saling memaafkan. Ada hubungan hati di antara keduanya sebagai hasil dimana mereka tidak menanggapi emosi-emosi atau kesalahan yang lain secara pribadi. Karena tidak ada pemicu rasa sakit di lapisan yang lebih dalam, mereka tidak terlalu menganggap penting hal itu. Secara emosional, kedua pasangan adalah independen. Mereka memperoleh kekuatan dan merasa baik tidak dari pengakuan atau keberadaan partnernya. Sang pria atau perempuan tidak mengisi kekosongan dalam kehidupan mereka, melainkan menambah sesuatu yang baru dan vital.

Dalam hubungan yang menyembuhkan, pasangan-pasangan juga dapat mengenal satu sama lain dari sebuah atau beberapa kehidupan di masa lalu. Tapi dalam hal ini mereka hampir tidak memiliki beban karma emosional seperti yang dilukiskan di atas. Kedua jiwa mungkin telah saling mengenal dalam kehidupan sebelumnya, dengan cara yang pada dasarnya memberi semangat dan mendukung. Sebagai teman, partner atau sebagai orang tua dan anak, mereka telah mengenal satu sama lain sebagai teman sejiwa. Ini menciptakan ikatan yang tidak terputus melalui banyak siklus kehidupan

Saya akan memberi contoh lainnya. Seorang pria muda tumbuh dalam keluarga yang miskin pada suatu masa di abad pertengahan. Ia sangat sopan dan sensitif, yang merupakan sifat alaminya, dan ia tidak begitu cocok dengan apa yang ada di lingkungannya. Keluarganya adalah keluarga pertukangan, orang-orang yang keras yang tidak terlalu peduli pada sifat alaminya yang pemimpi, tidak praktis. Ketika ia menjadi dewasa, ia memasuki biara. Ia juga tidak merasa bahagia di sana, karena hidup diatur secara ketat dan hanya ada sedikit kehangatan manusia atau persahabatan antar manusia yang hidup di sana. Namun ada seorang pria yang agak berbeda. Ia adalah pastor yang memiliki jenjang lebih tinggi, tapi yang tidak memiliki kesan otoritas dan yang benar-benar memiliki perhatian terhadapnya. Kadang-kadang pastor ini menanyakan keadaannya dan memberinya beberapa tugas yang menyenangkan seperti berkebun. Setiap kali mereka bertatapan ada sebuah rasa mengenal kembali, suatu rasa memiliki pikiran yang sama di antara mereka. Ada hubungan yang hening dari hati. Meskipun mereka tidak terlalu sering bertemu atau berbicara, pastor itu menjadi sumber harapan dan semangat bagi pria muda tersebut.

Pada masa kehidupan berikutnya pria muda ini adalah perempuan. Kembali ia memiliki sifat yang lembut dan pemimpi. Ia memiliki kesulitan-kesulitan untuk mengurus dirinya sendiri. Ketika ia menjadi dewasa ia mengalami penekanan dalam kehidupan pernikahannya oleh pria yang bersifat otoriter dan serba mengatur. Mula-mula ia merasa tertarik pada karismanya yang kuat dan menentukan, tapi kemudian ia menyadari bagaimana dominasi suaminya itu membatasi dan menekannya. Tapi meskipun demikian, sangat sulit baginya untuk membebaskan diri dari pria itu. Di tempat kerjanya ia kadang-kadang membicarakan masalah itu dengan seorang kolega, seorang pria yang agak lebih tua darinya. Pria itu menyemangatinya untuk mandiri dan mengakui kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Setiap kali ia berbicara dengan kolega ini, ia merasa bahwa kolega ini benar. Kemudian setelah menghadapi konflik batin yang kuat ia bercerai dari suaminya. Hubungan dengan kolega tersebut sekarang berubah. Ia merasa tertarik kepadanya. Ia mengetahui bahwa kolega ini juga single. Wanita ini merasa begitu nyaman saat berada dengannya, seolah-olah mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun. Mereka memulai sebuah hubungan yang mencintai, rileks dan menyemangati bagi keduanya. Simpati yang mengalir di antara mereka di masa kehidupan sebelumnya, sekarang mengambil bentuk sebagai hubungan yang memuaskan antara suami dan istri.

Ini adalah hubungan yang menyembuhkan. Perempuan itu telah mengambil keputusan penting dengan meninggalkan suaminya dan membuat pilihannya sendiri. Dengan ini ia telah menegaskan independen emosional. Ini telah menciptakan dasar untuk hubungan yang mencintai, yang seimbang dengan saudara sejiwa.

 © Pamela Kribbe 2010

Penerjemah: Dyan Andriana Kostermans


www.jeshua.net
/id

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s