Keluar dari Jaringan Spiral Teror

Alex Miller http://www.gehvoran.com

Wolfstein_mystisch_1920-718x400

Semakin kita bergerak mendekati bulan purnama ke-7 tahun 2016, tanggal 20 Juli, semakin tampak peristiwa-peristiwa di dunia kelihatan semakin meruncing. Teror di Perancis (Nice) dan kini juga di Jerman (serangan teror oleh pengungsi Afghanistan berusia 17 tahun di kereta api penumpang di Würzburg pada 18 Juli), demikian juga upaya kudeta di Turki adalah rangkaian hasil keputusan, yang tanpa ketahuan di ambil oleh penguasa-penguasa di balik pemerintahan. Politisi dan media hanyalah boneka-boneka dalam sebuah permainan catur dan diharapkan membuat masyarakat (bangsa-bangsa) menduga bahwa mereka hidup dalam sebuah demokrasi. Di mana para pelaku (teror) tunggal atas nama Tuhan yang menyebarkan ketakutan sudah lama direncanakan, peperangan di Timur Tengah beberapa tahun lalu meletakkan landasan untuk kebencian dan pengusiran. Permainan tersebut sudah direkayasa (dibuat  skenarionya) sejak ribuan tahun dengan pola seperti ini:

Pada dasarnya orang-orang yang cinta damai dipanas-panasi antara satu sama lain, sampai suatu saat mereka saling memenggal kepala. Dalam hal itu mereka tidak menyadari, bahwa mereka hanya mendengarkan/patuh pada keinginan penguasa lain. Itu adalah perhitungan tanpa emosi penguasa, yang tidak tahu, apa artinya Empati, apalagi mengetahui bagaimana rasanya (empati) itu. Tapi mereka ini juga mengetahui sangat pasti, bahwa ini adalah waktu kosmik yang diramalkan bagi Bumi, di mana umat manusia terbangun dari tidurnya dan dari kesadaran menjadi korban mencapai kesadaran penciptaan. Menjelang perubahan kesadaran (umat manusia) ini, ingin mereka perangi dengan skenario teror-teror!

Apa yang diperbuat Teror terhadap kita?

Bila kita sekarang mengikuti pemberitaan tentang aksi-aksi teror di TV atau internet, kita dapat menyimpulkan sangat baik, apa yang diperbuatnya terhadap kita: Jika kita merasakan ke dalam diri kita sendiri, terdapat perasaan seperti takut, tidak berdaya atau kasihan. Kita ikut menderita dengan para korban dan merasakan ketakutan, bahwa kita sendiri atau orang yang kita cintai dapat menjadi korban suatu serangan teror. Kita menghakimi pelaku dan memiliki perasaan yang tidak enak (takut atau was-was), jika kita melihat (tersangka) imigran di kereta api, menilai orang-orang berdasarkan asal budaya, sosial, etnis atau agama, tanpa mengenal orang tersebut. Di mana kita merasa demikian dan menata dunia berdasarkan kriteria-kriteria (tatanan dunia), di mana kemudian kita menciptakan gambaran dunia (bagi kita), adalah taktik penguasa yang bertanggungjawab di balik (boneka-boneka dalam) pemerintahan. Mereka menyebar pemilahan dan pembatasan. Umat manusia harus tetap terpilah-pilah, dibanding mendekatkan mereka satu sama lain guna melampaui pemisahan dan dualitas. Kesadaran keesaan (persatuan), karena kita berasal dari Sumber yang sama, diupayakan untuk dicegah, karena dengan begitu mereka dapat memperkokoh dan memperluas kekuasaannya.

 

Pengetahuan Nenek Moyang kita

Seandainya kita semua sebagai umat manusia memiliki Kesadaran, bahwa kita semua saling terhubung, maka tidak perlu ada uang atau peraturan, negara-negara, agama-agama atau perbatasan. Bangsa-bangsa yang hidup berdasarkan prinsip-prinsip ini, secara terarah hampir dimusnahkan seluruhnya, seperti (suku) bangsa asli di Amerika Utara, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Atau (kepercayaan) mereka diselubungi  dengan kepercayaan baru di atasnya, seperti misalnya (suku) bangsa Jermanik (Heidnische Völker), sehingga mereka meninggalkan (kebiasaan) alami mereka dan sebaliknya terus mengikuti jalur materi. Ucapan salam tradisional suku Maya bukan tanpa makna yang berbunyi: „Saya adalah Kamu dan Kamu adalah Saya“ („in lak’ech, a lak’en). Nenek moyang kita mengetahui sangat baik aturan-aturan alam di Bumi, namun pengetahuan ini diperangi (dilawan) dengan mengatas namakan bendera dan agama-agama sampai pertumpahan darah.

Tapi seperti sudah disebutkan, umat manusia berada pada waktu (era) yang mendasar dari perubahan dan akan dibantu secara positif oleh pengaruh-pengaruh kosmik tertentu. Ini adalah era, di mana orang-orang menyadari, dari mana mereka berasal dan siapa mereka sebenarnya. Manusia adalah suatu makhluk spirit dengan tubuh eterik dalam sebuah lingkungan fisik yang kasar/padat. Dan ia adalah suatu makhluk yang sangat berkuasa, cinta damai dan penuh cinta, jika ia belajar melepaskan perasaan-perasaan bersalah fiktifnya, memeluk anak batinnya, dapat memaafkan dan menerima realitas seperti yang sedang ditunjukkan Di Sini dan Sekarang, seperti apa adanya.

Keluar dari Spiral Kekerasan dan Tipuan (Ilusi)

Dan itulah tugas kita juga dalam inkarnasi ini, menyadari permainan yang salah dan tidak lagi memberikan energi kita kepada penguasa-penguasa yang tidak bermaksud baik terhadap kita. Perhatian kita terhadap itu menentukan, siapa atau apa yang akan kita beri dengan energi kita dan dengan begitu semakin dan semakin berkuasa.

Banyak orang yang sudah terjaga dari tidur lelap mereka, menjadi semakin sadar dan bisa melihat mekanisme-mekanisme yang terjadi di bumi. Sehingga terutama di Eropa terbentuk frekuensi energetis tinggi yang positif. Dan untuk mencegah hal ini, sudah sejak lama diciptakan skenario suatu prang, yang telah lama tiba di daratan Eropa. Bangsa (masyarakat) yang ketakutan dapat lebih mudah diawasi, oleh karena itu pihak-pihak yang berkuasa tidak memiliki minat untuk menciptakan Kedamaian di Bumi. Tokoh-tokoh pemerintahan seperti Hollande, pasca serangan teror di Nice tidak memiliki kepentingan lain selain mengumumkan perlawanan (secara) kekerasan berikutnya. Kepada bangsa (orang-orang) dijual, sepertinya tidak ada alternatif selain perang dan kekerasan.

Kita memang sebaiknya tidak membuang muka terhadap itu, tapi kita juga tidak boleh hilang dalam pemberitaan-pemberitaan yang mengerikan. Media dalam serangan teror semacam itu melakukan segala cara, untuk memisahkan kita dari Sumber kita dan menyelubungi perhatian kita dengan hal-hal yang menakutkan. Sehingga kita tidak lagi berada pada (pusat) diri kita sendiri, melainkan bergeser jauh darinya (pusat diri kita sendiri) dan hanya menjadi korban konsumsi tanpa pertahanan dari situasi-situasi tersebut. Sekarang tiba saatnya untuk berbalik (ke dalam diri kita sendiri) dan tanda-tanda untuk itu cukup bagus, bila kita menyadarinya – bagi masing-masing orang. Ini adalah waktu (era) untuk keluar dari spiral itu dan mengikuti suara batin (dalam diri) kita, yang semakin lantang mencapai kesadaran kita. Memang kita sering mengignorir ini, tapi segera kita tidak dapat lagi berbuat yang lain, selain mendengarkannya, jika tidak penyakit akan membantu kita untuk mengikuti suara batin kita. Suara ini menolong kita untuk merasakan esens universal dan untuk hidup. Semakin banyak orang melakukan hal ini, semakin penuh cinta energi di sekelilingnya dan dengan demikian kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di Bumi juga akan semakin berkurang.

Copyright: © Alex Miller / http://www.gehvoran.com
Diterjemahkan kosmosindo dari sumber: http://www.gehvoran.com/2016/07/aussteigen-aus-der-spirale-des-terrors/

Gambar: Gehvoran (Reruntuhan Puri)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s