Menggeser Kesadaran dari Ego ke Hati

now-1120279_640

From Ego to Heart I (http://jeshua.net/ )

Empat Tahap Menuju Transformasi Kesadaran

Dalam bab-bab sebelumnya, kami telah menjelaskan latar belakang sejarah perjalanan Lightworker dari kesadaran berbasis ego menuju kesadaran berbasis hati. Bagian ini akan ditujukan seluruhnya pada karakteristik psikologis transformasi ini. Kami sudah membagi proses ini dalam empat langkah atau tahapan, yang kami ringkas lagi untuk membuat lebih jelas:

  1. Merasa tidak puas akan apa yang ditawarkan kesadaran berdasarkan ego kepada kalian, merindukan “sesuatu yang lain”: awal dari akhir
  2. Menyadari adanya ikatan kalian terhadap kesadaran berdasarkan ego, mengakui dan melepaskan emosi-emosi dan pikiran yang terkait dengan itu: tengah dari akhir
  3. Membiarkan energi-energi lama yang berdasarkan ego dalam diri kalian mati, keluar dari kepompong: akhir dari akhir
  4. Kebangkitan kesadaran berdasarkan hati, yang dimotivasi cinta kasih dan kebebasan: membantu orang lain melakukan transisi

Tahap 1: Ego Tidak Lagi Memuaskan

Transisi dari kesadaran berdasarkan ego menuju kesadaran berdasarkan hati dimulai dengan pengalaman kekosongan di dalam. Hal-hal yang biasanya menguras penuh perhatianmu atau situasi yang mana kamu benar-benar terperangkap di dalamnya, kini membuatmu kosong atau tidak lagi terinspirasi. Seolah-olah hal-hal tersebut sudah kehilangan makna dan tujuan biasanya.

Sebelum kekosongan ini dialami, kesadaran berada dalam cengkeraman ketakutan dan kebutuhan yang dihasilkannya, yakni penegasan diri terus-menerus baginya. Ini adalah pencarian secara permanen penilaian diri dari luar, karena tidak bersedia menghadapi ketakutan penolakan dan kesepian yang mendasarinya. Ketakutan mendalam dan kebutuhan akan pengakuan dari luar, mungkin lama menjadi motivasi terselubung bagi banyak tindakanmu. Seluruh hidupmu mungkin dibina berdasarkan itu semua, tanpa kamu menyadarinya. Mungkin kamu sadar akan kegelisahan atau ketegangan yang sulit dijelaskan dalam dirimu. Tapi sering harus terjadi peristiwa lebih besar, seperti putus hubungan, kematian orang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan, yang membuat dirimu benar-benar memeriksa apa maksud dari kegelisahan atau ketegangan tersebut.

Jika ego menjadi pusat dari keberadaanmu, kesadaran dan kehidupan emosimu berada dalam kondisi yang tegang. Kamu terbelenggu dalam ketakutan, dan dari posisi ini kamu secara konstan mengambil posisi bertahan. Jika kamu berada dalam tahapan ego, kamu selalu mengalami kekosongan, kebutuhan akan sesuatu yang lebih. Dasar dari pikiran, perasaan dan tindakanmu adalah lubang hitam, kekosongan yang tidak akan pernah dapat lengkap terisi. Itu adalah lubang ketakutan, sebuah tempat yang diselubungi bayangan, sejak kesadaranmu berbalik menjauhinya. Di dalam bayang-bayang, ada kekosongan yang secara samar-samar kalian sadari, tapi kamu tidak mau pergi ke sana.

Dalam tahap ini, hubunganmu dengan Tuhan atau Semua Yang Ada ditandai dengan perasaan terpisah. Jauh di dalam kamu merasa sendirian dan ditinggalkan. Kamu merasa sepertinya dirimu adalah fragmen yang patah, tidak berarti, tanpa tujuan. Dan karena kamu menutupi ketakutanmu akan hal ini, kamu hanya mengalaminya secara tidak langsung, sebagai sebuah bayang-bayang.

Orang-orang ketakutan menghadapi kekosongan dalam diri dengan kesadaran penuh. Mereka ketakutan bertemu dengan kegelapan dalam diri mereka sendiri dan menyelidikinya. Namun bila kalian tidak menghadapinya, itu masih tetap di sana, dan kalian perlu mengembangkan “strategi-strategi yang di-copy” agar hidup masih dapat tertahankan. Strategi ego selalu berusaha menghadapi masalah tersebut di pinggiran, bukannya di pusat. Ego selalu mencari solusi masalah tersebut dengan mengalihkan kesadaran kalian ke luar. Ia mencoba mengatasi sakit yang terasa di dalam, dengan memberi kalian makanan berupa energi-energi dari luar. Energi-energi yang paling disukainya adalah pengakuan, kekaguman, kekuasaan, perhatian, dll. Dengan cara ini ego tampaknya menciptakan jawaban bagi kerinduan jiwa yang mendalam akan keesaan, keamanan dan cinta kasih.

Kerinduan akan diri sendiri benar-benar sah dan asli. Ini adalah Tuhan yang memanggil kalian. Itu adalah sifat alami diri kalian sendiri yang memanggil-manggil kalian. Kalian adalah Tuhan! Allah adalah energi keesaan, keamanan dan cinta kasih. Siapapun mendambakan cinta tanpa syarat dan pelukan energi yang kalian sebut Tuhan. Intinya, kerinduan ini adalah kerinduan untuk  menjadi benar-benar sadar akan diri ketuhanan kalian sendiri dan menjadi satu dengan Diri ketuhanan kalian sendiri. Keilahian diri kalian sendiri adalah pintu masuk kalian untuk cinta tanpa syarat. Kalian hanya dapat menemukannya dengan melewati ketakutan dan kegelapan yang mengelilinginya, dan ini kalian lakukan dengan berputar ke bagian dalam, bukan ke luar. Kalian melakukannya dengan menggunakan kesadaran kalian sebagai cahaya, yang mengusir pergi bayang-bayang ini. Kesadaran adalah cahaya. Karena itu tidak perlu untuk melawan kegelapan; dengan keberadaannya saja sudah membuat itu hilang. Dengan memutar kesadaran kalian ke bagian dalam, keajaiban-keajaiban sungguh akan terjadi pada kalian.

Bagaimanapun, ego, berfungsi justru dengan cara yang berlawanan. Ia mencatat kebutuhan akan cinta dan keamanan, tapi ia bertujuan menjawab kebutuhan ini tanpa menghadapi kegelapan dan rasa takut di dalam. Untuk mencapai hal ini ia memakai “trik” tertentu: ego mengubah kebutuhan akan cinta menjadi kebutuhan akan pengakuan dan pembenaran dari orang lain. Ia mengubah kebutuhan akan keesaan dan harmoni menjadi kebutuhan akan lebih hebat dan lebih baik daripada yang lain. Jika kalian berpikir, bahwa dicintai berarti dikagumi karena prestasi kalian, kalian tidak perlu lagi masuk ke dalam untuk mencari cinta dalam diri kalian; kalian hanya perlu bekerja lebih keras! Dengan cara ini ego mencoba tetap menahan tutup panci berisi ketakutan.

Kerinduan asli kalian akan cinta dan kesatuan yang membahagiakan, sekarang dirusak menjadi keinginan akan pengakuan. Kalian terus-menerus mencari penilaian dari luar, yang memberi kalian semacam jaminan sementara. Kesadaran kalian pada dasarnya terpaku pada dunia luar. Kalian mengandalkan penilaian orang lain, dan kalian sangat memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kalian. Ini hal yang amat penting bagi kalian, karena harga diri kalian tergantung dari itu. Pada kenyataannya, harga diri kalian tenggelam makin rendah, makin rendah, karena kalian melimpahkan kekuasaan kalian kepada kekuatan-kekuatan luar, yang menilai kalian untuk tampilan luar kalian, bukan untuk kalian yang sebenarnya.

Sementara itu, rasa ditinggalkan dan kesepian yang mendalam tidak berkurang. Kondisinya sebetulnya makin buruk, karena kalian menolak untuk melihatnya. Hal-hal yang tidak mau kalian lihat menjadi “sisi gelap” kalian. Ketakutan, kemarahan dan negativitas dapat berkeliaran di sana dan mempengaruhi kalian, diperkuat oleh penolakan kalian untuk pergi ke dalam. Ego bisa menjadi amat keras kepala, jika itu menyangkut menekan keraguan, firasat dan perasaan tertentu: ia tidak akan melepaskan pengawasannya begitu saja.

Apa yang kalian mengerti sebagai “jahat” dalam dunia kalian, selalu merupakan hasil dari mempertahankan kekuasaan pribadi. Ini adalah penolakan untuk menyerahkan kekuasaan dan menerima ketakutan dan kegelapan dalam diri.

Langkah pertama untuk pencerahan (enlightenment) adalah menyerahkan kepada “apa yang ada.” Pencerahan berarti, kalian mengijinkan semua aspek pada diri kalian masuk ke dalam cahaya kesadaran kalian. Pencerahan tidak berarti bahwa kalian benar-benar sadar akan segala sesuatu yang ada dalam diri kalian, tapi kalian bersedia menghadapi setiap aspek, secara sadar.

Pencerahan sama dengan cinta. Cinta berarti bahwa kalian menerima diri kalian apa adanya.

Kegelapan di dalam, rasa ditinggalkan di kedalaman jiwa yang kalian semua sangat takuti, sifatnya sementara. Tahapan ego ini hanya salah satu langkah dalam perkembangan besar dan memperluas kesadaran. Dalam tahap ini, sudah diambil lompatan pertama ke arah kesadaran ilahi yang terindividu.

Kelahiran dari kesadaran individual, kelahiran kalian sebagai “jiwa yang terpisah,” terjadi bersamaan dengan pengalaman ditinggalkan sendirian, menjadi terpisah dari Ibu/Ayah kalian. Ini bisa dibandingkan dengan trauma kelahiran dalam dunia fisik kalian. Di dalam rahim, bayi mengalami rasa kesamudraan pada kesatuan dengan ibunya. Jika bayi ini lahir, ia menjadi sebuah kesatuan pada dirinya sendiri.

Karena trauma saat kelahiran ini – berbicara sekarang tentang kelahiran dari jiwa – jiwa selalu membawa bersamanya rasa menjadi terpisah; ia harus berpisah dari segala sesuatu, apa yang baginya seharusnya ada.

Jiwa yang baru lahir merindukan untuk kembali pada status semi-kesadaran, akan keesaan dari tempat ia datang dan yang dianggapnya sebagai Rumahnya. Karena hal ini tidak memungkinkan, jiwa mengalami ketakutan besar dan merasa terkucil dan bingung. Rasa sakit yang dalam dan kehilangan orientasi, lama kelamaan menjadi pupuk bagi pengambilalihan kekuasaan oleh ego. Jiwa harus berhadapan dengan rasa takut dan sakit, dan ego berjanji menyediakan solusi. Ego menjanjikan pada kesadaran jiwa tersebut, kekuasaan dan pengawasan. Jiwa, yang merasa tak berdaya dan merasa hilang, menyetujui dan membiarkan ego memegang komando.

Ego adalah bagian dari jiwa yang berorientasi pada materi, dunia luar. Intinya, ego adalah instrumen jiwa untuk memanifestasi dirinya sendiri sebagai makhluk fisik di dalam waktu dan ruang. Ego menyediakan kesadaran-kesadaran dengan fokus. Ia membuat kesadaran khusus bukan kesamudraan, “di sini dan sekarang” bukannya “di semua tempat.” Ego menerjemahkan impuls-impuls di dalam menjadi bentuk materi khusus. Ini adalah bagian pada dirimu yang menjembatani jurang antara bagian non fisikmu (spiritual) dan bagian bersifat fisik.

Bagi jiwa sebagai makhluk non fisik spiritual, hal yang amat tidak alami untuk ditetapkan pada waktu dan ruang. Jiwa benar-benar independen (bebas) dari bentuk materi apapun. Jika kamu bermimpi terbang berkeliling, kamu sedang berhubungan dengan bagian yang independen dan bebas dari dirimu sendiri. Ego, di sisi lain, mengikat dan menetapkan. Itu membuatmu bisa berfungsi dalam realitas fisik. Lebih dari itu, ego memainkan peran yang amat berarti, yang tidak ada kaitannya dengan “baik” atau “buruk”. Jika beroperasi dalam situasi yang seimbang, ego adalah netral dan alat yang tidak bisa dikesampingkan bagi jiwa, yang tinggal di bumi dalam tubuh fisik.

Bagaimanapun jika ego mulai mengatur kesadaran jiwa, dan bukannya berfungsi sebagai alat, jiwa terganggu keseimbangannya. Jika ego mendikte kepada jiwa (itu adalah ciri utama kesadaran yang berdasarkan ego), ego tidak hanya akan menerjemahkan impuls dari dalam kepada bentuk materi, tapi akan mengawasi dan menekan secara selektif  impuls-impuls tersebut. Ego kemudian menunjukkan padamu dengan imej/gambaran yang terdistorsi tentang realitas. Ego yang tidak seimbang selalu menginginkan kekuasaan dan pengawasan, dan ia akan menginterpretasikan semua fakta sebagai positif atau negatif dalam pandangannya.

Hal ini sangat membantu untuk mengungkap motif dasar kalian sendiri akan kekuasaan dan pengawasan, dalam kehidupan kalian sehari-hari. Cobalah perhatikan, berapa sering kalian mencoba memaksakan keinginan kalian terhadap hal-hal atau orang-orang,  meskipun itu demi hal yang baik. Berapa sering kalian menjadi kesal, jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kalian inginkan? Penting untuk menyadari, bahwa di balik kebutuhan untuk mengawasi, selalu ada rasa takut kehilangan pengawasan. Jadi tanyalah pada dirimu sendiri: apakah risiko kehilangan kontrol, untuk melepaskan kebutuhan hal-hal sudah terprediksi sebelumnya? Apa ketakutan saya yang terdalam?

Harga yang sekarang kalian bayar untuk mempertahankan hal-hal “berada di bawah pengawasan” adalah, kalian menganggap hidup itu susah payah dan tegang.

Jika kalian memberanikan diri hidup dari inspirasi terdalam kalian dan hanya melakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan kalian, ini akan menciptakan tatanan yang alami dan asli dalam hidup kalian. Kalian akan merasa lebih santai dan bahagia, tanpa kebutuhan harus menyesuaikan diri dengan arus kehidupan. Itu adalah hidup tanpa ketakutan: Hidup dengan kepercayaan penuh terhadap apa yang akan dibawa hidup kepada kalian. Dapatkah kalian melakukannya?

Bagi jiwa yang muda, lubang jebakan dari kesadaran yang berdasarkan ego hampir tidak dapat dihindari. Ego tampaknya menawarkan solusi bagi masalah (rasa takut dan ditinggalkan); Itu menggeser perhatian kalian dari “apa yang ada di dalam diri” kepada “apa yang dapat kalian peroleh dari dunia luar”. Ini memang bukan solusi sebenarnya bagi permasalahan, tapi tampaknya untuk sementara waktu, itu membawa keringanan. Menjalankan kekuasaan dan pengawasan terhadap lingkungan kalian, dapat memberi kalian kepuasan atau “kick” yang bersifat sementara. Untuk sesaat ada perasaan dicintai, dikagumi dan dihormati. Hal tersebut mengatasi rasa sakit kalian untuk sementara. Tapi sifatnya hanya sebentar dan kalian harus kembali lagi bersusah payah, untuk menonjolkan diri, untuk menjadi lebih baik, lebih ramah atau lebih mau membantu.

Tolong sadarilah bahwa di bawah bendera ego, kamu dapat menjadi manis dan kasar, memberi dan menerima, dominan dan mengalah. Lebih dari itu, memberi, yang tampaknya tidak memikirkan diri sendiri, adalah seruan tanpa sadar untuk mendapat perhatian, cinta kasih dan pengakuan dari penerima pemberian itu. Jika kamu selalu memperhatikan dan memberi kepada orang lain, kamu hanya bersembunyi dari dirimu sendiri. Jadi untuk mengerti apa arti dominasi ego, kamu tidak perlu berpikir tentang penguasa yang kejam seperti Hitler atau Saddam Hussein. Ambil hal mudah; lihatlah dirimu sendiri dalam kehidupanmu sehari-hari. Kehadiran dominasi ego dapat dikenali dengan kebutuhan untuk mengontrol sesuatu. Salah satu contoh, bila kamu ingin orang tertentu bersikap dalam cara-cara tertentu. Agar hal itu terjadi, kamu menunjukkan pola-pola tertentu dalam bertingkah laku. Misalnya selalu baik dan ramah dan mencoba tidak melukai perasaan orang lain. Di balik perilaku ini ada kebutuhan untuk mengawasi. “Karena saya ingin agar kamu mencintai saya, saya tidak akan mengatakan hal-hal yang menentang kamu.” Jalan pikiran ini berasal dari ketakutan. Itu ketakutan untuk mengakui diri sendiri, rasa takut ditolak atau ditinggalkan. Apa yang kelihatan baik dan ramah, pada kenyataannya sebuah bentuk membohongi diri sendiri. Itu adalah ego yang sedang bekerja.

Selama ego memerintah jiwamu, kamu akan perlu mencekoki dirimu sendiri dengan energi dari orang lain agar kalian merasa baik. Kamu tampaknya harus mendapat pengakuan dari orang lain, dari sejumlah otoritas di luar dirimu. Tapi dunia di sekelilingmu tidak tetap atau tidak stabil. Kamu tidak pernah bisa terus mengandalkan untuk menurut pada apapun yang kamu andalkan, apakah itu pasangan hidup, pimpinan atau orang tua. Itu sebabnya kamu terus “bekerja” setiap saat, selalu mencari-cari “porsi penilaian”, yang datang kepadamu. Itu menjelaskan kondisi jiwa yang tegang dan gelisah yang terus menjebak siapa pun dalam tahapan ego.

Ego tidak dapat memenuhimu dengan cinta sejati dan harga diri. Solusi yang ditawarkan bagi trauma ditinggalkan, pada kenyataannya sumur tanpa dasar. Misi sebenarnya dari kesadaran jiwa yang muda adalah untuk menjadi orang tua yang hilang.

Perlu disadari bahwa struktur kehidupan di bumi, yang artinya proses mulai keluar sebagai bayi yang tidak berdaya dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri, sering mengundangmu tepat melakukan hal itu. Betapa sering kunci untuk kebahagiaan sejati dalam hidupmu berdusta dalam hal ini: dimana kamu menjadi ayah dan ibumu sendiri, dan memberi kepada dirimu sendiri cinta kasih dan pengertian yang kamu rindukan dan yang hilang dari yang lain. Pada tingkat lebih besar, tingkat metafisik, kami sudah membicarakannya, ini berarti: mulailah mengerti bahwa kamu adalah Tuhan, bukan salah satu dari domba kecilnya yang hilang. Inilah realisasi yang akan membawa kamu pulang. Inilah realisasi yang akan membawamu menuju hati dari dirimu yang sebenarnya, yakni cinta kasih dan kuasa ilahi.

Akhir dari tahap ego mulai tampak ketika jiwa menyadari ia terus mengulang-ulang siklus bertindak dan berpikir yang sama. Ego kehilangan dominasinya, ketika jiwa menjadi lelah dan bosan berjuang sepanjang waktu untuk mengejar harta yang selalu sulit diraih. Kemudian jiwa mulai curiga, bahwa dari janji-janji permainan itu adalah palsu dan benar-benar tidak ada sesuatupun yang dapat diraih. Ketika jiwa bertambah lelah dalam mencoba dan menjadi yang terbaik setiap saat, maka ia sedikit melonggarkan kendali pengawasan.

Dengan energi yang berkurang untuk mengontrol pikiran dan perilaku, terbuka ruang energetis yang memungkinkan untuk pengalaman baru dan berbeda. Mula-mula jika kamu memasuki tahap ini, kamu mungkin merasa amat lelah dan kekosongan di dalam. Hal-hal yang sebelumnya kamu anggap penting, tampaknya sekarang mulai tidak bermakna. Juga ketakutan-ketakutan mungkin muncul ke permukaan, yang tidak ada penyebab atau hubungan yang jelas. Mungkin samar-samar ada rasa takut mati atau takut kehilangan orang yang kamu cintai. Juga mungkin timbul kemarahan terkait situasi dalam pekerjaan atau hubunganmu. Segala sesuatu, yang dulu tampaknya sudah merupakan hal yang sewajarnya, sekarang diragukan. Apa yang selalu ingin dihalangi oleh kesadaran berbasis ego, akhirnya terjadi.

Sedikit demi sedikit tutup panci terangkat, dan segala macam emosi tak terkendali dan ketakutan berloncatan keluar dan memasuki kesadaranmu, menimbulkan keraguan dan kebingungan dalam hidupmu. Sampai saat itu, kamu berfungsi sepenuhnya dengan autopilot. Banyak pola berpikir dan merasakan dalam dirimu, terjadi secara otomatis; kamu membiarkannya terjadi tanpa mempertanyakan itu. Hal ini memberi kesatuan dan stabilitas bagi kesadaranmu. Tapi ketika kesadaranmu tumbuh dan berkembang, pribadimu terpilah. Sebagian darimu masih ingin mempertahankan jalan lama, dan bagian lain darimu mempertanyakan jalan ini, serta mengkonfrontasi dirimu dengan perasaan-perasaan tidak nyaman seperti marah, takut atau ragu.

Perkembangan kesadaran yang terjadi pada akhir tahap ego, karena itu sering dirasakan sebagai perusak kesenangan, penyusup tak diundang yang merusak permainan. Kesadaran baru ini sekarang mengguncang segala sesuatu yang sebelumnya tampak jelas, dan membangkitkan emosi dalam dirimu, dimana kamu tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Ketika kamu mulai meragukan pola berpikir dan bertindak yang berbasis ego, seluruh sisi baru dirimu memasuki kesadaranmu. Ini adalah bagian dari dirimu yang mencintai kebenaran, bukan kekuasaan.

Hidup sesuai dengan perintah ego sangat tertekan. Kalian melayani seorang diktator kecil yang ketakutan yang bertujuan menguasai dan mengawasi, tidak hanya terhadap lingkungan kalian, tapi terutama atas kalian. Arus spontan kalian dalam merasakan dan berintuisi, dibatasi oleh diktator ini. Ego tidak begitu suka spontanitas. Itu menahan kalian untuk secara bebas mengekspresikan perasaan kalian, karena perasaan dan emosi tidak bisa dikendalikan dan tidak bisa diprediksi, dan ini berbahaya bagi ego. Ego bekerja dengan topeng.

Jika ego kalian mendikte kalian, “bersikaplah manis dan pada tempatnya untuk mengambil simpati orang”, kalian secara sistematis akan menekan perasaan tidak senang dan kemarahan dalam diri kalian. Jika kalian mulai ragu akan kebenaran dikte-dikte tersebut, emosi-emosi yang tertekan ini muncul kembali sekaligus. Perasaan-perasaan, tidak bisa dihilangkan dengan cara ditekan. Mereka terus hidup dan bertambah intensitasnya, semakin lama kalian menekannya.

Jika jiwa mengalami kekosongan dan keraguan, yang begitu khas pada akhir tahap ego, hal ini memungkinkan kalian untuk menemui dan menghadapi semua perasaan dan emosi yang sebelumnya tersembunyi dalam gelap. Perasaan dan emosi yang terpendam ini adalah pintu gerbang menuju Diri Kalian yang lebih besar. Dengan menyelidiki apa yang benar-benar kalian rasakan, bukan apa yang seharusnya kalian rasakan, kalian mengembalikan spontanitas dan integritas kalian, suatu bagian dari kalian, yang juga disebut “inner child” (anak batin/anak kecil di dalam diri sendiri). Melakukan hubungan dengan perasaan dan emosi kalian yang sesungguhnya, membawa kalian pada jalan kebebasan. Transisi menuju kesadaran yang berdasarkan hati kemudian sudah dimulai.

© Pamela Kribbe
Penerjemah: Dyan Andriana Kostermans

Sumber: http://www.jeshua.net/id/

 

Advertisements

3 thoughts on “Menggeser Kesadaran dari Ego ke Hati

  1. Pingback: Melepaskan Ikatan-Ikatan Ego | kosmosindo

  2. Pingback: Melepaskan Diri Kalian Yang Lama | kosmosindo

  3. Pingback: Membuka Diri untuk Spirit | kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s