Melepaskan Ikatan-Ikatan Ego

now-1120279_640

From Ego to Heart II (http://jeshua.net/ )

Kami membedakan empat tahap dalam transformasi dari kesadaran yang berbasis ego menuju kesadaran berbasis hati.

  1. Merasa tidak puas akan apa yang ditawarkan kesadaran berdasarkan ego kepada kalian, “merindukan sesuatu yang lain”: awal dari akhir
  2. Menyadari adanya ikatan kalian terhadap kesadaran berdasarkan ego, mengakui dan melepaskan emosi-emosi dan pikiran yang terkait dengan itu: tengah dari akhir
  3. Membiarkan energi-energi lama yang berdasarkan ego dalam diri kalian mati, keluar dari kepompong: akhir dari akhir
  4. Kebangkitan kesadaran berdasarkan hati, yang dimotivasi cinta kasih dan kebebasan: membantu orang lain melakukan transisi

 Pada bab ini kita akan membahas tahap ke-2. (Untuk bab ke-1 lihat https://kosmosindo.wordpress.com/2016/08/20/menggeser-kesadaran-dari-ego-ke-hati/)

Jika kamu berhenti mengidentifikasi dirimu dengan ego, kamu pertama-tama masuk dalam keadaan bingung tentang siapa sebenarnya dirimu. Kebingungan ini sifatnya dapat sangat mendalam dan sangat filosofis. Kamu akan bertanya-tanya tentang arti kehidupan, tentang baik dan buruk, bahwa apa yang sebenarnya kamu rasakan dan pikirkan, berlawanan dengan apa yang diajarkan orang lain kepadamu untuk merasa dan berpikir. Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba menjadi amat nyata bagimu, dan pertanyaan ini memiliki hubungan langsung dengan pilihan-pilihan yang kamu ambil dalam hidup. Kamu mengamati dirimu sendiri dan kamu berpikir: inikah saya? Inikah yang saya inginkan? Kini sulit untuk mengambil pilihan, karena tidak ada yang jelas.

Pada kenyataannya, kamu sekarang mengambil langkah mundur, langkah menuju ke kedalaman, langkah ke dalam. Kamu menjadi sadar akan bagian yang lebih dalam pada dirimu sendiri, bagian yang kurang terkondisikan oleh caramu menjadi dewasa dan oleh masyarakat. Kamu mendapat pandangan sekilas tentang siapa dirimu sebenarnya: keunikan-keunikanmu, individualitasmu. Kamu ingat bahwa ada bagian dalam dirimu, yang tidak tergantung pada apapun di sekelilingmu, orang tuamu, pekerjaanmu, hubungan-hubunganmu, bahkan tidak pula badanmu. Ini jika kamu – samar-samar – merasakan ketuhananmu, bagian darimu yang benar-benar tidak terikat dan abadi.

Sebenarnya, kamu adalah makhluk multidimensional; kamu dapat dan mampu melakukan manifestasi dirimu sendiri dalam berbagai realitas yang berbeda pada waktu yang sama. Kamu tidak terikat pada kerangka waktu linear. Pribadimu saat ini hanya salah satu aspek dari dirimu sebagai entitas (makhluk non-fisik) yang multidimensional. Setiap kali kamu menyadari bahwa ekspresimu saat ini sebagai manusia (dalam bentuk) fisik hanya salah satu aspek darimu, kamu dapat melampaui hal itu dan kamu dapat berhubungan dengan Diri Sendiri yang lebih besar daripada dirimu.

Tapi sebelum kamu sampai ke sana, kamu perlu menyembuhkan bagian-bagian yang terluka dalam dirimu.

Hidup dengan menuruti perintah dan tuntutan ego telah membuat luka-luka psikologis dalam dirimu. Melepaskan kesadaran berdasarkan ego mula-mula menciptakan kebingungan, keraguan dan kehilangan orientasi. Setelah langkah pertama ini, kamu memasuki fase baru: ini adalah fase penelitian, pengertian dan penyembuhan luka-luka batinmu. Kita akan membicarakan stadium ini sekarang.

Dengan berada dalam pengawasan ego, tindakan dan pikiranmu telah berdasarkan ketakutan untuk waktu lama. Dalam arti, kamu secara kejam mengikuti keinginanmu akan kekuasaan, pengakuan dan pengawasan. Di sini, kamu mengecewakan sifat alamimu sendiri. Tindakanmu sudah berdasarkan standar-standar di luar dan bukan berdasarkan kebutuhan dirimu yang sebenarnya. Juga kamu tidak bisa benar-benar mencintai seseorang, karena cinta benar-benar kebalikan dari kebutuhan untuk mengawasi atau mendominasi. Semua bentuk kesadaran (dari luar) membentuk serangan terhadap integritas jiwamu. Jiwa menderita di bawah kekuasaan ego.

Jika kamu memisahkan dirimu sendiri dari kungkungan dan cengkeraman ego, kesedihan di dalam dirimu ini akan lebih tampak bagimu. Ia terbuka bagimu, tanpa selubung dan asli, tanpa topeng. Bagaimanapun kamu masih belum tahu bagaimana mengatasi rasa sakit ini, karena kamu masih dalam kondisi kebingungan dan kehilangan orientasi. Lebih dari itu, kamu melalui fase menghakimi luka batinmu, karena tampaknya semua itu membawamu ke pola perilaku yang negatif: kecanduan, depresi, gejolak suasana hati yang tidak terkendali, masalah dalam berkomunikasi, kesulitan dalam hubungan yang intim.

Penghakiman terhadap dirimu sendiri menambah rasa sakit pada jiwa, yang baru saja berputar ke arah cahaya. Jiwa sedang melepaskan kebutuhan untuk kekuasaan dan pengawasan, ia menjadi lebih sensitif….dan kemudian ia terjebak dalam penghakiman diri sendiri.

Banyak orang berkelana dalam kawasan tak bertuan ini, yang berada antara ego dan hati. Mereka mencari realitas yang lebih banyak cinta, tapi mereka masih berada dalam jangkauan cemeti ego.

Sebenarnya, bukan rasa sakit dalam diri yang membuatmu menjadi mangsa apa yang kamu anggap “sifat-sifat negatif” pada dirimu. Itu adalah penghakimanmu terhadap rasa sakit yang menyebabkan hal-hal negatif ini. Jika kamu mengamati dirimu sendiri dengan sikap menerima, kamu tidak melihat kecanduan, atau depresi atau kepribadian yang kurang. Kamu hanya melihat rasa sakit dalam batin, yang perlu mendapat perawatan dan perhatian selembut dan sebaik mungkin.

Langkah yang terpenting dalam tahap kedua transisi dari ego menuju hati adalah kamu mau mengerti rasa sakit dalam dirimu: menerimanya, mengerti asal mulanya dan mengijinkannya menjadi begitu.

Bila kamu dapat mengerti inti ketakutan yang melekat pada semua eskpresi kesadaran yang berpusat pada ego, kamu telah memasuki realitas kesadaran yang berdasarkan hati. Bagaimanapun buruknya perilaku seseorang, jika kamu mengenali rasa sakitnya, kesepiannya dan kebutuhannya akan perlindungan diri di balik itu, kamu berhubungan dengan jiwa yang menunjukkan perilaku negatif. Segera setelah kamu mengerti jiwa yang ketakutan, kamu bisa memaafkan. Ini pertama-tama dan terutama berkaitan dengan dirimu sendiri.

Coba cari dalam dirimu sendiri, sesuatu yang benar-benar kamu benci, sesuatu yang benar-benar mengganggumu, yang kamu pikir hal itu harusnya sudah lama kamu singkirkan. Itu mungkin ketidaktegasan, atau kemalasan, atau ketidaksabaran, atau sebuah kecanduan: apa saja yang kamu rasa harusnya tidak ada di sana. Sekarang coba untuk mengerti motif sebenarnya di belakang sifat atau kecenderungan ini. Apa yang mendorongmu untuk merasakan atau melakukan hal ini berulang-ulang? Dapatkah kamu menyadari unsur ketakutan dalam motivasimu?

Dapatkah kamu mengerti bahwa segera setelah kamu menyadari di sana ada ketakutan, kamu menjadi lebih bersikap lembut dalam dirimu, rasanya seperti: “Aduh kasihan, saya tidak tahu kamu begitu ketakutan! Saya akan menolong kamu.” Kini ada toleransi dalam sikapmu. Ada cinta kasih dan memaafkan.

Selama kamu menghakimi perilaku yang berdasarkan ketakutan seperti agresi, kecanduan, sikap tunduk pada sesuatu, sombong, dll., sebagai hal yang “buruk,” “dosa”, atau “bodoh”, kamu sedang menghakimi. Tapi menghakimi diri sendiri adalah aktivitas yang berdasarkan ketakutan. Apakah kamu menyadari bahwa jika kamu menghakimi, kamu bertambah keras di dalam. Sesuatu mengikat, ibaratnya bibir saling menekan dan mata semakin dingin. Mengapa kita perlu menghakimi sesuatu? Apa desakan untuk mempersempit sesuatu menjadi benar dan salah? Apa yang ada di balik ketakutan dalam kebutuhan kita untuk menghakimi? Ini adalah ketakutan untuk melihat kegelapan dalam diri kita sendiri. Ini pada intinya adalah ketakutan akan hidup.

Dengan melepaskan kesadaran berbasis ego, kamu ingin mengembangkan seluruh cara baru dalam mengamati hal-hal. Cara mengamati ini mungkin yang terbaik digambarkan sebagai netral, yang artinya hanya mencatat apa yang ada, dan tidak berminat membuat hal-hal ini “menjadi bagaimana seharusnya.” Penyebab dan efek-efek dari perilaku berdasarkan ego sudah diselidiki, inti ketakutan di dalamnya sudah disadari dan dengan begitu, ego benar-benar menjadi transparan bagimu. Apabila ini menjadi transparan bagimu, kamu dapat melepaskannya jika kamu mau.

Setiap manusia mengetahui apa itu takut. Siapapun dari kalian tahu kegelapan dan kesepian bila terjebak dalam ketakutan. Jika ketakutan ditunjukkan secara terbuka di wajah seorang anak, kebanyakan orang bereaksi langsung dengan mengulurkan tangan mereka. Tapi jika ketakutan ditunjukkan secara tidak langsung, melalui topeng kekerasan dan brutalitas, itu tampaknya tidak bisa dimaafkan. Semakin besar penghancuran dan kekasaran dari sebuah perilaku, semakin sulit untuk menyadari ketakutan dan kesepian yang ada di baliknya.

Masih, kamu dapat melakukannya.

Dari pengalaman terdalam dirimu sendiri tentang takut dan kesepian, kamu  dapat mengenali ketakutan yang mendalam pada jiwa-jiwa pembunuh, pemerkosa dan pelaku kriminal.

Hal yang mungkin bagimu untuk mengerti tindakan-tindakan mereka. Dan jika kamu melakukan ini berdasarkan pengalaman intim dirimu sendiri dengan kegelapan, kamu dapat melepaskannya. Kamu dapat membiarkan itu demikian tanpa perlu menghakimi apapun. Jika kamu benar-benar memahami rasa takut sebagai kekuatan (itu), dan dimana kamu sudah mengenalinya lewat pengalaman-pengalaman hidupmu, kamu dapat melepaskan penghakiman. Takut bukan hal yang baik ataupun buruk. Takut ADALAH YANG ADA dan memiliki peran tertentu yang dimainkan.

Dalam cara yang sangat sulit dijelaskan dalam konsep manusia, takut adalah berkat seperti halnya siksa. Dalam kasus apapun, pilihan untuk mengijinkan ketakutan masuk dalam realitasmu bukan dibuat untuk kamu. Kamu adalah Tuhan-Tuhan, demikian bisa dikatakan, yang mengijinkan takut memainkan peran konstitutif dalam realitasmu. Kalian berbuat demikian bukan untuk menyiksa diri kalian tapi untuk mencipta, untuk mencipta sebuah realitas yang memiliki isi lebih banyak, lebih “penuh isi” ke dalamnya daripada dunia yang semata-mata berdasarkan cinta kasih. Saya paham, ini kedengarannya tidak bisa dipercaya, tapi mungkin kamu secara intuitif bisa mengerti sekilas, apa yang saya coba sampaikan di sini.

Takut adalah bagian yang bisa direalisasikan dalam penciptaan. Dimana ada takut, tidak ada cinta kasih. Jika tidak ada cinta kasih, cinta kasih dapat ditemukan dalam cara-cara baru dan tidak terduga. Seluruh lingkup emosi dapat ditemukan, bahkan diciptakan tanpa adanya cinta kasih. Ketidak-adaan cinta dapat dirasakan dengan berbagai cara. Kehadiran cinta hanya dapat dirasakan dengan melawan latar belakang ketakutan. Seandainya tidak begitu, semuanya sudah terpenuhi dan kalian tidak akan bisa mengetahuinya.

Jadi dengan menciptakan takut, dengan melontarkan diri kalian sendiri keluar dari samudra cinta yang mengelilingi kalian, kalian mengijinkan diri kalian sendiri untuk mencari pengalaman cinta kasih untuk pertama kalinya.

Kalian mengerti?

Kalian tidak menciptakan cinta, tapi kalian menciptakan pengalaman tentang cinta. Kalian memerlukan lawannya, sesuatu yang berbeda dibanding cinta untuk mengetahui ini, dan kalian menggunakan ketakutan sebagai alat. Kami yang berada di sisi lain dari tirai selubung, bisa melihat dengan jelas peran spiritual yang dimainkan rasa takut dalam realitas kalian. Oleh karena itu kami memohon kepada kalian, berulang-ulang, agar tidak menghakimi. Tolong jangan menghakimi ketakutan dan kegelapan yang dibawanya, baik dalam diri kalian sendiri atau pada makhluk lain apapun. Kalian semua diciptakan dari cinta kasih dan kalian seharusnya kembali untuk mencintai.

Jika kalian memasuki tahap kedua dari proses transformasi dari ego menuju hati, kalian dikonfrontasi dengan luka dalam diri kalian, ketakutan kalian, dan kalian diajak untuk mengamatinya dengan pengertian dan penerimaan.

Setelah menyadari luka-luka dan ketakutan dalam diri kalian, kalian mungkin mula-mula melalui periode menghakimi diri sendiri, di mana kalian mungkin melihat perilaku yang merusak. Tampaknya kalian berjalan mundur bukan maju. Pada poin tersebut, kalian berada di zona berbahaya, kawasan tidak bertuan antara ego dan hati. Kalian tahu kalian ingin melepaskan yang lama, tapi kalian belum dapat benar-benar mencapai yang baru, jadi kalian terjebak dalam keraguan diri sendiri dan penghakiman diri sendiri. Titik baliknya ketika kalian berhenti menghakimi diri sendiri – setidaknya untuk sementara waktu.

Hanya jika kalian siap untuk melihat diri kalian sendiri dengan sikap penuh minat dan keterbukaan, maka kalian akan memasuki realitas kesadaran yang berdasarkan hati. Sebelum itu kalian hanya membandingkan diri kalian sendiri dengan standar-standar buatan atau ideal, yang dalam sebagian besar waktu, kalian merasa kurang. Kalian menyalahkan diri kalian sendiri untuk ini, dan kemudian kalian mencoba lagi untuk memaksa diri kalian sendiri masuk ke dalam cetakan-cetakan, yang kalian ciptakan bagi kalian sendiri di kepala kalian.

Bentuk perfeksionisme (penyempurnaan) seperti ini, saya katakan kepada kalian, adalah senjata pembunuh. Ini amat berlawanan dengan cinta. Cinta benar-benar tidak membandingkan, yang lebih penting lagi, cinta tidak pernah memaksa kalian untuk sesuatu atau mengubah kalian lewat cara apapun. Cinta tidak punya mata untuk apa yang seharusnya menjadi. Kategori yang sangat tentang “seharusnya” tidak ada dalam kesadaran berbasis hati. Dilihat dari hati, kategori-kategori moral hanyalah cara menginterpretasi atau “memilah” realitas. Itu adalah ide-ide di kepala kalian dan seperti kalian ketahui, ide ini bisa amat berbeda dari kepala yang satu ke kepala lainnya. Kebutuhan yang amat sangat untuk menetapkan standar dan mendefinisi sesuatu, adalah cikal bakal terjadinya konflik dan perang antar manusia. Jadi bukan terlalu didasari ide-ide sebagai kebutuhan mendasar untuk mengawasi dan menetapkan sesuatu, yang menjadi pemicu agresi dan konflik.

Hal-hal ideal bersifat politis, pribadi atau spiritual, standar kesehatan, kecantikan dan kebugaran, semua menyiapkan kalian dengan standar-standar tentang bagaimana sesuatu seharusnya menjadi, tentang bagaimana kalian seharusnya bersikap. Ini semua mencoba untuk menetapkan dan mendefinisi apa itu Baik.

Tapi Cinta tidak tertarik dalam mendefinisi (yang) Baik. Cinta tidak tertarik akan ide-ide, tapi akan realitas. Cinta mengembalikan pada apa yang nyata.

Hati tertarik akan semua apa yang ada, dalam setiap ekspresi aktual dari kalian, yang destruktif maupun yang konstruktif. Itu mudah dimengerti: itu hanya ada, mengelilingi kalian dengan keberadaannya, jika kalian mengijinkannya.

Ketika kalian terbuka akan realitas tentang cinta, realitas tentang hati, kalian melepaskan penghakiman. Kalian menerima siapa kalian pada saat ini. Kalian menyadari, bahwa kalian adalah kalian apa adanya karena berbagai macam alasan, yang sekarang mulai akan kalian investigasi dan selidiki.

Bila saat ini tiba, itu karunia luar biasa bagi jiwa. Kalian kini bisa menyembuhkan diri kalian sendiri. Kalian akan kembali jatuh pada penghakiman diri sendiri dari waktu ke waktu, tapi kalian kini punya memori yang sadar bagaimana rasanya cinta. Dan segera setelah kalian mendapatkan itu, kalian akan kembali untuk menemukannya lagi, karena kalian sudah merasakan lagi bau harum yang manis dari Rumah.

Dalam tahap kedua transisi kesadaran berbasis ego menuju hati, kalian memiliki hubungan lebih dekat dengan diri kalian sendiri. Kalian mengamati lebih dekat bagasi kalian dari masa lalu. Kalian menghidupkan kembali memori-memori menyakitkan, memori-memori dari kehidupan ini, mungkin juga memori-memori dari kehidupan sebelumnya. Bagasi psikologis yang kalian bawa dari semua masa kehidupan kalian, sampai saat ini, membentuk identitas aktual kalian. Kalian boleh melihat bagasi ini ibaratnya koper penuh pakaian. Kalian sudah memainkan banyak peran di masa lalu, diasumsikan dengan banyak identitas, sama seperti potongan-potongan garmen. Kalian mempercayai sedemikian rupa sejumlah peran, dimana kalian melihatnya sebagai identitas kalian. “Ini saya”, pikir kalian terhadap sejumlah peran atau “pakaian.”

Bila kalian benar-benar menginvestigasi apa yang dilakukan peran-peran ini terhadap kalian, bagaimanapun kalian akan menemukan bahwa kalian bukan mereka. Kalian bukan peran-peran psikologis atau identitas-identitas yang kalian duga. Kalian bukan pakaian kalian. Kalian sudah menggunakan peran-peran ini, dari kebutuhan perasaan-jiwa untuk mengalami.

Jiwa menemukan kegembiraan dalam semua pengalaman, karena mereka adalah bagian dari proses belajar yang sudah disepakati oleh jiwa itu sendiri. Semua pengalaman membantu dan berharga dari sudut pandang ini.

Jika kamu melihat lebih dekat peran-peran dirimu sendiri atau identitas, kamu segera mengetahui ada pengalaman-pengalaman yang menyakitkan bahkan menyebabkan trauma di masa lalu, yang masih “melekat” padamu. Kamu tampaknya tidak mampu melepaskannya. Itu semua sudah seperti menjadi “kulit kedua”, kulit bukannya sekedar garmen.

Semua adalah unsur-unsur kesulitan di masa lalumu, lapisan-lapisan yang kini menahanmu dari hidup yang sebenarnya dan menikmati hidup. Kamu sudah mengidentifikasi begitu banyak dengan bagian-bagian ini, yang kamu pikir kamu adalah mereka. Karena itu kamu merasa kamu adalah korban dan kamu menggambar kesimpulan-kesimpulan negatif dari situ tentang hidup. Tapi kesimpulan-kesimpulan ini tidak begitu berlaku bagi hidup; kesimpulan ini hanya berlaku untuk bagian-bagian yang mengalami trauma dalam kesadaran jiwamu.

Inilah bagian-bagian yang sekarang perlu penyembuhan. Kamu melakukannya dengan memasuki kembali masa lalu, tapi dengan kesadaran bahwa ada lebih banyak cinta dan kebijaksanaan dibanding yang kamu miliki sebelumnya. Pada tahap kedua dari proses transformasi dari ego menuju hati, kamu menyembuhkan episode-episode dari masa lalu dengan mengelilinginya dengan kesadaranmu saat ini. Melalui mengulang pengalaman trauma-trauma tersebut saat ini, dari fokus yang terpusat di hati, kamu akan membiarkan bagian-bagian yang mengalami trauma di masa lalumu pergi.

Trauma terjadi jika kamu mengalami kehilangan atau rasa sakit atau hal buruk luar biasa dan kamu tidak bisa mengerti mengapa itu terjadi. Kamu semua sudah mengalami trauma dalam banyak kehidupanmu. Pada kenyataannya, kesadaran jiwa selama dalam tahapan ego, mengalami trauma sejak awal: ada rasa kehilangan Keesaan atau Rumah yang diingat dan tidak dimengerti.

Jika kamu kembali ke peristiwa traumatis yang asli melalui imajinasimu dan kamu mengelilinginya dengan kesadaran dari hati, kamu mengubah keaslian reaksimu terhadap peristiwa itu. Dalam regresi masa lalu, kamu hanya mengetahui tentang apa yang terjadi dan tindakan ini sangat menciptakan ruang untuk pengertian, ruang untuk pengertian spiritual tentang apa yang sebetulnya terjadi dalam peristiwa itu. Jika ruang ini hadir, kamu akan menjadi tuan bagi realitamu lagi. Kamu sekarang mampu memiliki sikap menerima terhadap seluruh episode, karena kamu mengerti dari hati, bahwa ada makna dan tujuan bagi segala sesuatu yang terjadi. Kamu dapat merasakan dari hati, bahwa ada sebuah unsur untuk pilihan bebas bagi semua yang terjadi, dengan begitu kamu tambah bisa menerima tanggung jawabmu sendiri untuk peristiwa itu. Jika kamu menerima tanggung jawabmu sendiri, kamu bebas untuk bergerak.

Hanya jika kamu mengaitkan dirimu dengan identitas dirimu di masa lalu sebagai aktor yang memainkan peran-perannya, maka kamu akan bebas pergi kemana pun sesukamu. Kamu kemudian bebas untuk memasuki kesadaran berdasarkan hati. Kamu tidak lagi melekat pada aspek apapun yang  pernah kamu alami di masa lalu: korban atau penyerang, laki-laki atau perempuan, hitam atau putih, miskin atau kaya, dsb. Jika kamu dapat memainkan dengan santai aspek dualitas dan hanya menggunakannya bila itu membawamu pada kegembiraan dan kreativitas, kamu sudah mengerti makna hidup di bumi. Kamu akan mengalami kegembiraan besar dan rasa seperti pulang ke rumah (homecoming). Ini karena kamu mulai terhubung dengan kesadaran yang mendasari perbedaan peran-peran dan identitas-identitasmu. Kamu menyentuh kembali kesadaran ilahimu lagi, pengertian bahwa segalanya adalah satu: singkatnya, realita cinta kasih.

Kita akan menutup bab ini dengan memberimu dua meditasi yang dapat menolongmu berhubungan dengan arus keesaan, yakni arus kesadaran ilahi yang mendasari semua pengalamanmu

Meditasi 1

  • Karakter psikologis mana yang kamu rasa sangat kuat sebagai bagian dari dirimu sendiri, yang paling menyebabkan masalah dalam hidupmu? Sebutkan dua dari karakteristik ini
  • Fokuskan lawan dari karakteristik tersebut. Jadi jika kamu menyebut “tidak sabaran” atau “tidak pasti”, kamu sekarang memfokuskan pada lawannya: sabar dan percaya diri. Rasakan energi dari karakteristik ini untuk sesaat
  • Masuklah ke dalam dirimu dan carilah energi-energi ini di dalam dirimu. Sebutkan tiga contoh dari hidupmu sendiri yang menunjukkan karakteristik positif ini.
  • Sekarang karena kamu sudah berhubungan dengan karakter-karakter positif ini, biarkanlah energi ini mengalir pada dirimu dan rasakan bagaimana energi ini menyeimbangkanmu

Meditasi 2

  • Rileks dan biarkan imajinasimu berjalan mundur ke saat dimana kamu merasa amat bahagia. Ambillah kesan pertama yang memasuki pikiranmu. Rasakan kebahagiaan itu lagi
  • Sekarang pergilah ke saat dimana kamu merasa amat tidak bahagia. Rasakan kembali apa yang dulu kamu rasa tidak bahagia ini
  • Coba tangkap apa persamaan pada kedua pengalaman itu. Rasakan apa yang sama dalam kedua momentum tersebut

Kedua meditasi dimaksudkan agar kamu mengetahui kesadaran yang mendasari ini, selalu hadirnya “ke-kamu-an” dalam semua pengalamanmu. Wadah kesadaran yang selalu hadir ini, penyangga semua pengalamanmu adalah Kamu yang ilahi. Itu adalah pintu masukmu ke dalam realitas di balik dualitas: realitas hati.

 

© Pamela Kribbe

Penerjemah: Dyan Andriana Kostermans

Sumber: Dari Ego Ke Hati II www.jeshua.net/id/

Advertisements

One thought on “Melepaskan Ikatan-Ikatan Ego

  1. Pingback: Membuka Diri untuk Spirit | kosmosindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s