Hidup Lebih Santai dengan Prinsip Pareto

sea-979259_640

Prinsip Pareto berasal dari nama pakar sosiologi dan ekonomi Italia Vilfredo Pareto. Pada awal abad ke-20 ia melakukan penelitian tentang kepemilikan tanah (kekayaan) dan pendapatan di Italia. Dari situ Pareto mengamati, bahwa 20 persen penduduk memiliki 80 persen tanah (kekayaan) di negara itu.

Perbandingan 80:20 atau 20:80 ini kemudian berkembang ke banyak negara dan diterapkan ke dalam berbagai bidang (kehidupan), terutama manajemen bisnis. Misalnya

  • 80 persen pendapatan perusahaan dihasilkan dari 20 persen konsumen/pelanggan perusahaan itu
  • 20 persen produk perusahaan menghasilkan 80 persen omset/laba perusahaan

 

Di abad ke-21 ini perbandingan prinsip Pareto, terutama dalam konstelasi kepemilikan kekayaan di suatu negara dan di dunia, semakin banyak diperdebatkan (di mana banyak yang berasumsi konstelasi pembagian kekayaan di dunia saat ini adalah 10:90 atau bahkan 1:99). Tapi saya sendiri tidak terlalu menitikberatkan pada angka perbandingan kepemilikan kekayaan di dunia (karena alam semesta hidup dalam prinsip All Is One, Semua ADAlah Satu, dan angka perbandingan itu akan cepat berubah bila kita menyadari arus kelimpahan yang ada di alam semesta). Yang menarik dan ingin saya ceritakan terkait prinsip Pareto di sini adalah manfaat praktisnya.

Dalam manajemen proyek khususnya manajemen waktu, bagi para “perfeksionis”, penerapan prinsip Pareto adalah hal yang sangat membantu. Diterjemahkan ke dalam manajemen waktu, arti prinsip Pareto adalah: dalam 20 persen dari waktu yang tersedia (untuk proyek), Anda sudah berhasil merampungkan 80 persen tugas proyek tersebut. Dan  memerlukan 80 persen dari waktu Anda, untuk mencapai 20 persen sisa tugas proyek yang belum terselesaikan (membuatnya menjadi 100 persen perfek, menyempurnakannya). Proyek yang saya maksud di sini, proyek kehidupan yang dimiliki setiap manusia dan di sepanjang hidupnya.

Saya sendiri sebelum mengenal prinsip Pareto adalah seorang yang sangat perfeksionis. Ini tentu saja merepotkan saya sendiri, karena waktu menyempurnakan sebuah hasil/produk bisa sangat lama. Hasilnya diperiksa lagi, dicek ulang…pokoknya membuat senewen 🙂 Selain itu untuk memulai sesuatu, persiapan untuk memulai sesuatu (proyek) itu pun harus direncanakan dan/dipersiapkan sebegitu sempurna, harus perfek…alias begitu merepotkan (dipelajari dulu, diperiksa, dipertimbangkan, dicek ulang…sampai kadang-kadang proyek itu tidak mulai-mulai 🙂 Bila meninjau kembali kehidupan sebagai perfeksionis yang mengejar hasil yang perfek, sebelum saya mengenal prinsip Pareto tiga tahun lalu…saya bertanya pada diri saya sendiri…koq bisa dan tahan ya hidup dengan begitu „streng“, segalanya harus sempurna, perfect, „tidak boleh tidak perfek“, jangankan salah, tidak perfek sedikit saja sudah serasa bencana, penuh pengawasan standar kesempurnaan…aduh capek, meskipun saat mengerjakannya tidak terasa demikian karena itu adalah standar kehidupan kerja sehari-hari ketika itu. Tidak heran, jika saya pernah mengalami burn out.

Memang, perfeksionisme sangat melelahkan dan menguras waktu (kehidupan). Selama bekerja sebagai redaktur, hidup saya (terasa) selalu kurang waktu. Bahkan saat tidur pun masih dikejar-kejar (penyempurnaan) pekerjaan, yakni dalam mimpi yang sering terjadi: Saya sudah berada dalam studio siaran sedang siaran live, ternyata naskah berita masih belum selesai atau ada bagian naskah yang tidak terbawa ke meja studio. Jadi (dalam mimpi) saya selalu merasa kelabakan. Meskipun saya berhenti kerja di redaksi tiga tahun lalu, tapi mimpi-mimpi naskah yang belum selesai itu, masih membayangi mimpi-mimpi saya sampai sekitar satu atau satu setengah tahun lalu. Dengan kata lain, setelah mengenal prinsip Pareto, „kebiasaan“ perfeksionis itu tidak langsung hilang, tapi setahap demi setahap saya bisa melepaskan keinginan untuk perfek/sempurna. Efeknya, dalam tiga tahun terakhir hal-hal yang saya jajagi dan saya (berani) lakukan OMG beragam sekali 🙂 …dan hidup terasa jauh lebih santai. Terima kasih Signor Pareto.

 

Light and Love

kosmosindo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s