Membuka Diri untuk Spirit

chakra-1063278_640

Membuka Spirit

Transisi dari kesadaran yang berdasarkan ego menuju kesadaran berdasarkan hati berlangsung dalam beberapa langkah:

  1. Merasa tidak puas akan apa yang ditawarkan kesadaran berdasarkan ego kepada kalian, merindukan “sesuatu yang lain:” awal dari akhir
  2. Menyadari adanya ikatan kalian terhadap kesadaran berdasarkan ego, mengakui dan melepaskan emosi-emosi dan pikiran yang terkait dengan itu: tengah dari akhir
  3. Membiarkan energi-energi lama yang berdasarkan ego dalam diri kalian mati, keluar dari kepompong: akhir dari akhir
  4. Kebangkitan kesadaran berdasarkan hati, yang dimotivasi cinta kasih dan kebebasan: membantu orang lain melakukan transisi

Langkah pertama https://kosmosindo.wordpress.com/2016/08/20/menggeser-kesadaran-dari-ego-ke-hati/

Langkah kedua https://kosmosindo.wordpress.com/2016/08/21/melepaskan-ikatan-ikatan-ego/

Langkah ketiga https://kosmosindo.wordpress.com/2016/08/22/menjadi-diri-kalian-sendiri/

Sekarang kita akan berbicara tentang langkah terakhir, langkah keempat:

Membuka Diri untuk Spirit

Jika kalian memasuki tahap keempat, kalian menemukan tempat yang damai dan tenang dalam diri kalian. Kalian sering mengadakan hubungan dengan keheningan dalam hati kalian, dimana kalian tahu, hal itu abadi. Segala hal yang kalian alami, sifatnya relatif dibanding keberadaan yang abadi dan menyeluruh ini.

Tempat yang damai dan tenang dalam kalian juga disebut Spirit.

Dalam tradisi esoteris kalian, dibedakan antara spirit, jiwa dan raga/tubuh.

Tubuh adalah tempat tinggal materi dari jiwa kalian untuk kurun waku tertentu.

Jiwa adalah non fisik, jangkar psikologis pengalaman kalian. Di dalamnya, ia membawa pengalaman-pengalaman dari berbagai masa kehidupan. Jiwa berkembang seiring waktu dan tumbuh perlahan-lahan menjadi batu mulia dengan berbagai lapisan, dimana setiap lapisan mencerminkan bentuk pengalaman berbeda dan pengetahuan yang berkaitan dengan itu.

Spirit tidak berubah, juga tidak berkembang seiring waktu.

Spirit berada di luar ruang dan waktu. Spirit dalam kalian adalah bagian abadi, bagian dari kalian yang tidak mengenal waktu yang Satu dengan Tuhan yang menciptakan kalian. Itu adalah kesadaran ilahi, yang menjadi dasar ekspresi kalian di dalam ruang dan waktu. Kalian dilahirkan dari alam kehidupan berkesadaran murni dan kalian membawa bagian dari kesadaran itu bersama kalian melewati semua manifestasi kalian dalam bentuk materi.

Jiwa ambil bagian dalam dualitas. Jiwa tersentuh dan tertransformasi melalui pengalamannya dalam dualitas. Spirit berada di luar dualitas. Ia adalah latar belakang, dari mana semua berkembang dan meluas. Spirit adalah Alfa dan Omega (Awal dan Akhir), yang juga dapat kalian sebut sebagai Yang Ada atau Sumber.

Keheningan, baik di luar tapi terutama di dalam, adalah akses terbaik untuk mengetahui energi yang selalu ada ini, yang adalah Kamu di dalam inti terdalam kalian. Dalam keheningan kalian dapat berhubungan dengan hal-hal yang paling indah dan paling wajar yang ada: Spirit, Tuhan, Sumber, Yang Ada.

Jiwa membawa banyak memori dari berbagai inkarnasi. Ia tahu dan mengerti jauh lebih banyak dibanding pribadi duniawi kalian. Jiwa terhubung dengan sumber pengetahuan paranormal, seperti misalnya pribadi kalian dari kehidupan sebelumnya atau pembimbing atau teman-teman kalian dari tingkatan astral. Meskipun adanya hubungan ini, jiwa dapat berada dalam kondisi bingung, tidak mengenali lagi kondisi alami sejatinya. Jiwa dapat tertraumatisasi oleh pengalaman-pengalaman tertentu, dan karena itu tinggal dalam gelap untuk sementara waktu. Jiwa terus berkembang dan mencapai pengertian tentang dualitas, yang menjadi dasar kehidupan di bumi.

Spirit adalah titik yang tetap dalam perkembangan ini. Jiwa bisa berada dalam kondisi kegelapan atau pencerahan. Tapi tidak demikian halnya dengan spirit. Spirit adalah Keberadaan murni, kesadaran murni. Ia ada dalam gelap maupun dalam cahaya. Ia adalah keesaan, yang mendasari semua dualitas. Jika kalian sampai pada tahap empat transformasi kalian dari ego menuju hati, kalian menghubungkan diri dengan Spirit. Kalian menghubungkan diri dengan Ketuhanan/Keilahian kalian.

Berhubungan dengan Tuhan di dalam kalian, ibaratnya dibawa keluar dari dualitas, sambil tetap benar-benar sadar dan menjejak di bumi. Dalam kondisi ini, kesadaran kalian terisi dengan kebahagiaan yang dalam tapi hening, suatu campuran antara damai dan sukacita.

Kalian menyadari, bahwa kalian tidak tergantung pada apa yang ada di luar kalian. Kalian bebas. Kalian benar-benar berada di dunia, tapi bukan dari dunia.

Menghubungkan diri dengan Spirit dalam diri kalian bukanlah sesuatu yang terjadi sekaligus. Itu adalah proses yang lambat dan bertahap, dimana kalian terhubung, kemudia kembali lepas, kembali terhubung… Sedikit demi sedikit fokus dari kesadaran kalian bergerak dari dualitas menuju kesatuan. Ia melakukan re-orientasi sendiri dan menemukan, bahwa ia akhirnya lebih tertarik pada keheningan dibanding pada pikiran dan emosi. Dengan keheningan maksud kami benar-benar terpusat dan hadir, dalam kondisi kesadaran yang tidak menghakimi.

Tidak ada metode atau sarana yang ditetapkan untuk mencapai ke sana. Kunci untuk berhubungan dengan Spirit kalian bukan untuk mengikuti disiplin tertentu (seperti meditasi atau puasa, dll.), melainkan untuk benar-benar mengerti – mengerti bahwa keheninganlah yang membawa kalian ke rumah, bukan pikiran-pikiran atau emosi-emosi kalian.

Pengertian ini tumbuh perlahan-lahan, dimana kalian semakin bertambah sadar akan mekanisme pikiran-pikiran  dan emosi-emosi kalian. Kalian melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama dan membuka diri untuk realitas baru, kesadaran yang berdasarkan hati. Kesadaran berbasis ego di dalam diri kalian layu dan lambat laun mati.

Kematian bukan sesuatu yang kalian lakukan; itu sesuatu yang kalian ijinkan terjadi. Kalian menyerahkan diri kalian sendiri kepada proses kematian. Mati adalah kata lain untuk perubahan, transformasi. Itu selalu demikian. Kematian selalu merupakan pelepasan yang lama dan membuka yang baru. Dalam proses ini, tidak ada satu saat pun dimana kalian “bukan kalian”, dimana kalian misalnya sedemikian mati, seperti definisi kalian. Kematian, seperti definisi kalian adalah ilusi. Itu hanya ketakutan kalian pada perubahan, yang membuat kalian takut akan kematian.

Kalian tidak hanya takut mati secara fisik, melainkan juga takut mati secara emosional dan mental selama kalian hidup. Tapi tanpa kematian, hal-hal akan menjadi kaku dan tidak bergerak. Kalian akan menjadi tahanan dari bentuk-bentuk lama: tubuh yang usang, pola pikir yang tidak sesuai zaman, reaksi-reaksi emosional yang terbatas. Mencekik bukan? Kematian adalah pembebas. Kematian adalah air terjun yang segar, yang mendobrak gerbang pagar yang tua dan berkarat dan menyapu kalian ke kawasan pengalaman baru.

Jangan takut pada kematian. Tidak ada kematian, hanya perubahan.

Transisi dari hidup dengan kesadaran yang berbasis ego menuju hati dalam banyak hal ibaratnya pengalaman mati. Semakin besar kalian mengidentifikasi diri sendiri dengan Spirit, dengan Tuhan dalam kalian, semakin banyak kalian melepaskan hal-hal yang yang dulu pernah membuat kalian khawatir atau dulu banyak menguras energi kalian. Kalian menyadari dalam tingkatan yang jauh lebih dalam, bahwa tidak ada yang benar-benar harus dilakukan selain ada. Jika kalian mengidentifikasi diri kalian dengan keberadaan kalian, bukannya dengan pikiran dan emosi yang mengalir sekilas melalui kalian, hidup kalian akan langsung terpengaruh. Spirit bukan hal yang abstrak. Itu adalah kenyataan, yang benar-benar dapat kalian terapkan dalam hidup kalian. Dengan menghubungkan diri dengan sumber termurni ini, akhirnya akan mengubah segala sesuatu dalam hidup kalian. Tuhan atau Sumber atau Spirit dari alaminya bersifat kreatif, tapi dalam cara-cara yang bagi kalian hampir tidak bisa dimengerti.

Spirit itu diam dan tetap tapi kreatif. Realitas tentang ilahi tidak dapat benar-benar dicapai oleh logika. Itu hanya bisa dirasakan. Jika kalian membiarkannya dalam hidup kalian, dan kalian mengenalinya sebagai bisikan hati kalian, segala sesuatu secara perlahan-lahan mulai jatuh pada tempatnya. Ketika kalian mengambil arah pada realitas Spirit, kesadaran hening yang ada di balik semua pengalaman kalian, kalian berhenti untuk berjuang atau ingin memaksakan keinginan kalian atas realitas. Kalian membiarkan hal-hal kembali pada kondisi alami atau terjadi apa adanya. Kalian menjadi Diri Kalian yang alami, yang sebenarnya. Semua ini terjadi dalam cara yang harmonis dan penuh makna. Kalian hanya perlu tetap berada pada irama ketuhanan dan melepaskan semua ketakutan dan kesalahpahaman yang membuat kalian ingin melakukan intervensi.

Membantu Yang Lain dari Tingkatan Spirit

Jika kalian sudah melewati transisi dari kesadaran berdasarkan ego menuju kesadaran berdasarkan hati, kalian setidaknya selau berhubungan dengan arus ilahi untuk berada  di dalam. Dalam kondisi ini, tidak ada kebutuhan atau keinginan membantu yang lain, tapi itu datang secara alami kepada kalian. Kalian menariknya kepada kalian, tapi bukan melalui keinginan. Secara energetis, kalian kini mengirim vibrasi-vibrasi tertentu. Dalam kawasan energi kalian ada sesuatu yang tersedia, yang menarik orang kepada kalian. Itu bukan sesuatu yang kalian lakukan, itu sesuatu kalian apa adanya. Ada getaran yang tersedia dalam energi kalian, yang dapat menolong orang lain, untuk berhubungan dengan keilahian dirinya sendiri.

Kalian dapat menjadi cermin bagi mereka, dimana mereka bisa melihat sebuah masalah atau kondisi yang sulit, benar-benar dipasrahkan dan ditransformasi ke dalam sebuah energi penyelesaian. Mereka dapat merasakan energi penyelesaian yang selalu ditemukan melalui kontak dengan ketuhanan diri sendiri, dalam keberadaan kalian.

Kalian dapat mengajari mereka sesuatu dan pengajaran ini berlangsung dimana kalian menjadi kalian sendiri. Kalian mengajar dan menyembuhkan bukan melalui penyampaian pengetahuan atau menggunakan metode-metode tertentu.

Itu dilakukan dengan mengijinkan kalian menjadi diri kalian sendiri, apa adanya dan kalian mengungkapkan diri kalian sendiri, sebagaimana yang kalian rasa paling menggembirakan, dengan begitu keberadaan kalian adalah hal yang paling membantu. Dimana kalian sendiri berbagi dengan orang lain, itu membuat kalian menyediakan bagi mereka sebuah tempat untuk penyembuhan, dimana mereka bebas memilih untuk masuk atau tidak. Itu tergantung pada mereka.

Sebagai penyembuh atau terapis, kalian benar-benar hanya perlu tetap berhubungan dengan arus dalam ilahi, dengan kesadaran yang diam yakni Spirit. Benar-benar hubungan inilah yang menggerakkan orang lain dan mengangkat mereka pada kondisi kesadaran yang lebih tinggi, kondisi lebih bebas, jika mereka memilihnya. Ketika mereka melakukannya, hal itu akan terjadi dalam sebuah irama dan aliran yang sesuai dengan diri mereka sendiri.

Berada di sana bagi orang lain dengan cara ini adalah nada perasaan yang paling netral, sebuah kualitas non emosional. Hal ini membutuhkan tingkat pengambilan jarak, dimana kalian melepaskan keinginan pribadi kalian untuk mengubah atau “menyembuhkan” orang lain. Keinginan semacam ini, yang ditunjukkan oleh semua Lightworker pada beberapa tahap tertentu, sebenarnya tidak berasal dari pengertian murni tentang jalan batin, yang ingin ditempuh orang untuk menemukan kebenaran sejati di dalam dirinya.

Kebanyakan orang perlu pergi sampai ke dasar untuk tema-tema tertentu, sebelum mereka benar-benar siap untuk melepaskannya. Ketika mereka melakukan itu, mereka benar-benar “memiliki” solusi untuk tema-tema tersebut dan ini memberi mereka kepuasan mendalam. Mungkin kalian mengenali hal ini dalam kehidupan kalian sendiri, dan tema-tema yang membuat kalian berjuang. Cobalah sadari hal ini dan jangan berusaha untuk mencegah orang “membentur dasar”. Jika mereka memutuskan untuk pergi ke sana, mereka akan pergi ke sana, bukan semua yang kalian lakukan atau katakan.

Lebih baik tidak terlibat secara emosional dengan orang yang kalian bantu. Keterlibatan emosional ini, ibaratnya tuntutan pada keinginan pribadi untuk menyembuhkan atau mengubah orang lain. Keinginan pribadi ini tidak membantu orang lain: itu sebetulnya malah dapat memicu blokade dalam proses penyembuhan mereka. Kapanpun bila kalian ingin mengubah orang, kalian tidak berada dalam keadaan cinta kasih dan mengijinkan. Mereka merasakan itu. Kalian kira, kalian mengamati dan membaca mereka, tapi mereka juga pembaca vibrasi yang peka seperti kalian!

Pada tahap keempat transisi dari ego ke hati adalah menyangkut perubahan di tingkat jiwa dan berkembang ke tingkat spirit. Tentu saja kami bukan berarti mengatakan bahwa jiwa “kurang” dibanding spirit. Intinya adalah: kalian lebih besar dan lebih luas daripada jiwa kalian. Jiwa adalah sarana bagi pengalaman. Dengan mengidentifikasi dengan Spirit dalam diri kalian, dengan diri ilahi kalian sendiri, semua hal yang sudah kalian alami dalam begitu banyak masa kehidupan, menjadi jelas. Kalian berkembang melalui pengalaman-pengalaman dengan tidak mengidentifikasi diri kalian sendiri dengan salah satu pun dari mereka. Ini memiliki efek penyembuhan terhadap jiwa.

 

© Pamela Kribbe

Terjemahan: Dyan Andriana Kostermans

Sumber: Dari Ego ke Hati IV (www.jeshua.net)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s