Duta Besar Suriah untuk PBB Bashar Ja’afari Ungkap Kisah Sebenarnya

globe-960267_640

Bashar Ja’afari, Utusan Tetap Republik Arab Suriah untuk PBB pada Konferensi yang digelar Schiller-Institut di New York, 10 September 2016, menyampaikan pidato ini:

Ambassador Ja’afari speech transcript in English: http://www.schillerinstitute.org/highlite/2016/0911-ny/bj.html

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, terima kasih banyak atas kehadiran Anda hari Sabtu ini, Sabtu yang panas, yang lembab, untuk mendengarkan kami. Saya tahu bahwa kadang-kadang politik adalah hal yang membosankan, membosankan para pendengar. Namun, tema ini sangatlah penting. Ini tidak hanya menyangkut Suriah, tapi ini menyangkut kita semua. Itu menyangkut AS, menyangkut Suriah, Irak, Timur Tengah, seluruh Timur Tengah—seluruh dunia! Dan kami akan berusaha agak memperdalam dengan menambahkan apa yang baru saja dipaparkan oleh rekan yang saya hormati Senator Richard Black.

Sejarah menunjukkan kepada kita, bahwa kebohongan-kebohongan tidak dan tidak akan bisa abadi. Kita mengetahuinya dengan pasti pada saat-saat ini, bahwa banyak episode tragis dalam sejarah telah berdasarkan pada kebohongan-kebohongan, yang artinya mereka tidak berdasar dan tanpa landasan apa pun. Saya dapat membagi dengan Anda ratusan contoh-contoh tentang apa yang saya katakan, yang semuanya dikendalikan dari PBB itu sendiri, dari Perserikatan Bangsa-Bangsa , di mana saya mewakili negara saya.

Pada kenyataannya kami punya terlalu banyak informasi, dibanding yang bisa kami bagi dengan Anda di sini. Kami bisa berjam-jam, bahkan berhari-hari berbicara tentang apa yang terjadi di dunia secara umum dan khususnya di Suriah, dan Anda akan terkejut, karena Anda tidak pernah mendengar apa pun sebelumnya tentang informasi yang akan saya bagi dengan Anda.

Adalah kehormatan besar bagi saya mendapat kesempatan ini untuk berbicara kepada pengunjung terhormat dari podium di Gereja St. Bartholomeus di Manhattan ini. Saya menyampaikan kepada Anda salam dari hati  dan harapan terbaik, dan saya berterima kasih kepada Schiller-Institut, dan berterima kasih kepada semua untuk kehormatan yang diberikan kepada saya dan kolega-kolega saya.

Kita berkumpul hari ini ketika kita semua mengenang tragedi 11 September. Itu adalah salah satu hari paling menyedihkan dan menyakitkan dalam sejarah Amerika Serikat. Itu juga suatu pelajaran yang berat dan sulit bagi semua bangsa dan pemerintahan, di mana terorisme tidak mengenal batasan atau identitas, dan karenanya tidak pernah dapat dibenarkan, dilindungi atau ditutupi. Saya mengatakan ini, karena Senator Black memberikan sejumlah petunjuk adanya hubungan-hubungan Saudi terhadap peristiwa 9/11 (11 September). Dan saya masih akan membahas agak lebih lanjut tema tersebut nanti. 15 dari 19 teroris yang melakukan serangan-serangan 11 September adalah warga-warga Saudi. Tidak ada warga-warga Suriah; tidak ada warga-warga Irak; tidak ada warga-warga Aljazair. Mereka adalah warga-warga Saudi.

Para Saudi ini terbentuk dari apa yang disebut, dikenal secara umum Wahhabisme, yang berasal dari nama pendiri sekolah haluan pemikiran ini, Mohammad Abdul Wahhab (1703-1792). Abdul Wahhab muncul secara tiba-tiba di Hijaz, nama lama Arab Saudi, yang sebetulnya nama palsu. Arab Saudi adalah nama yang palsu untuk negara itu, karena “Saudi” artinya al-Saudi, keluarga dari Saud; jadi itu ibaratnya Anda mengubah nama negara Anda sendiri ke dalam nama  Amerika Serikat dari Obama. [pengunjung tertawa] Jadi keluarga ini mencuri nama negara tersebut dan mengubah negara ini supaya sesuai dengan tujuan-tujuan radikalnya. Itu terjadi pada akhir abad ke-18.

Bagian yang lucu dari cerita itu adalah di mana sekolah pemikiran ini difasilitasi, diciptakan dan ditunjang oleh dinas rahasia Inggris pada waktu itu. Jadi Dinas Rahasia Inggrislah yang memfasilitasi penciptaan gerakan radikal ini dalam Islam – tentu saja dengan kesengajaan,— Anda tahu, bagaimana Inggris itu, bagaimana mereka bertindak. Tidak ada yang gratis. [pengunjung tertawa]

Pada tahun 1802, pengikut-pengikut dari pria gila ini bergerak menuju Karbala di Irak. Di Karbala, mereka menyerang tempat suci Muslim Syiah, dan di Damaskus pada tahun 1810 mereka berusaha menguasai kota, tapi warga Suriah menghentikan mereka dan mengalahkan mereka pada tembok-tembok kota itu. Selanjutnya mereka mundur dan pergi kembali ke mana mereka berasal.

Saya memaparkan latar belakang ini untuk menunjukkan kepada Anda, bahwa gerakan gila ini bukan pendatang baru. Itu sudah ada sejak berabad-abad, untuk sebagian waktu dilindungi oleh Inggris, kemudian oleh Amerika. Itu bukan karena mereka menyukainya, melainkan karena kegilaan mereka cocok dalam agenda-agenda politik luar negerinya.

Manipulasi Islam

Islam bukan menyangkut Arab Saudi. Di Damaskus, dalam mesjid terbesar di Damaskus yang disebut Mesjid Umayyad, di tengah-tengahnya, di jantung mesjid tersebut, yang juga merupakan mesjid terbesar dan terpenting di Suriah, – kami memiliki makam St. Yohanes Pembaptis (Yohanes Pemandi) di dalam mesjid. Makam St. Yohanes Pembaptis ada di tengah-tengah mesjid itu, di mana warga Muslim maupun Kristiani mengunjungi makam itu, dan menyampaikan doa-doa mereka.

Senator Black telah menyampaikan kepada Anda tentang Mufti dari Suriah, pria luar biasa ini. Apakah Anda dapat percaya, bahwa penasihat politik utamanya adalah seorang Kristen? Penasihat politik Mufti ini adalah warga Kristiani. Itu hanya ada di Suriah—hanya di Suriah! Inilah mengapa kami sangat bangga dengan sekularisme kami. Kami bangga akan siapa kami adanya, apakah kami Muslim atau Kristen, tapi kami tidak bersedia menjadi sebegitu gila seperti warga-warga Saudi. Dan kami sama sekali tidak menyetujui konsep-konsep agama mereka.

Selain itu, apa yang dilakukan ISIL* dan semua kelompok-kelompok fanatik lainnya, yang beroperasi di Suriah dan di Irak, mereka yang memenggal kepala anak-anak laki-laki, dan para perempuan, dan anak-anak perempuan,—mereka telah mewarisi metode pemenggalan kepala dengan pedang dari para Wahhabi! Sampai sekarang, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, di Arab Saudi setelah sholat Jumat, mereka memenggal kepala orang di tempat-tempat terbuka. Sampai sekarang! Itu tidak hanya dilakukan ISIL! Di Arab Saudi sendiri,  setiap Jumat setelah sholat, mereka memenggal kepala orang-orang, secara publik, di tempat umum, menggunakan pedang-pedang! Jadi cerita itu bukan hal yang baru. ISIL bukanlah pendatang baru; ISIL telah eksis di sana sejak ratusan tahun, dalam perwujudan orang-orang Saudi. Dan inilah mengapa mereka melindungi mereka dan membela mereka dan mengirimi mereka senjata-senjata dan uang.

*Catatan penerjemah: Kelompok ISIL juga dikenal dengan nama-nama lainnya, antara lain IS, ISIS, Daesh.

Kebanyakan dari kita di dunia percaya, setelah kejadian di hari kelabu 11 September, akan ada sikap internasional yang terpadu menentang terorisme. Kita semua sangat optimis kala itu, jika Anda ingat, bahwa kita akan bersama-sama memerangi terorisme. Dan di mana semua bangsa akan bersama-sama melawan teroris-teroris, pendukung-pendukungnya, para pemberi dananya dan para pemimpin gagasannya. Sayangnya, apa yang terjadi kemudian, adalah invasi ke Irak. Tapi jika orang-orang Saudi yang menyerang Twin Tower (Menara Kembar) di New York, mengapa mereka mengejar Irak, jika alasan sebenarnya adalah pembalasan terhadap peristiwa 11 September – dan kita semua tahu, dan kita juga sudah mengetahui kala itu, bahwa itu adalah konspirasi Saudi. Mengapa harus menyerang Irak? Irak adalah negara sekuler, seperti Suriah. Suriah, Irak dan Aljazair adalah satu-satunya tiga negara berpemerintahan sekuler di dunia Arab! Irak sekarang lenyap dari pandangan mata; Irak menjadi poros terorisme internasional, setelah George Bush menyebarkan Kebebasan di sana. [Tertawa]

Anda mengenal Aljazair. Aljazair sudah diuji sebelum kami, di awal tahun 1990-an. Mereka mengirim kepada mereka (Aljazair) musim semi Arab yang dini, tapi itu berhasil dipatahkan—terima kasih Tuhan! Jadi, hanya tinggal Suriah. Hanya tinggal Suriah; Dan Mesir, sejak baru-baru ini, setelah pengusiran Morsi, yang termasuk keluarga yang sama dari gerakan radikal pada Islam. Itu tidak menyangkut Islam; itu menyangkut gerakan-gerakan radikal, mengaku-aku, menyatakan dan menimbulkan kesan bahwa mereka mewakili Islam, tapi mereka tidak.

Islam adalah mangsa yang empuk dan telah menjadi bisnis bagus untuk manipulasi. Bisnis sangat bagus untuk manipulasi, bisnis sangat bagus. Setiap orang menarik keuntungan bisnis dari Islam dengan sangat murah, dan kami akan mencoba menjelaskan, mengapa. Itu bukan menyangkut politik. Anda sudah kenyang dengan politik; Saya juga sudah kenyang dengan politik. Itu menyangkut dimensi-dimensi geo-politik, rivalitas, persaingan, dominasi.

Seperti sudah kami katakan, apa yang terjadi kemudian sayangnya adalah invasi ke Irak, dengan alasan sangat sama yakni perang melawan terorisme. Itulah bagian yang lucu dari cerita: Ketika George Bush menginvasi Irak, ia mengatakan bahwa ia melakukannya untuk melawan terorisme: dan untuk dugaan, yang pada kenyataannya salah, untuk memusnahkan  senjata pemusnah massal – satu lagi kebohongan lainnya. Anda tahu itu. Anda tahu itu, dan biarkan saya menceritakan kisah ini kepada Anda. Saya sendiri adalah seorang saksi mata: Saya bekerja pada PBB dan saya tahu apa yang sedang saya katakan, karena saya ada di sana—sebuah kisah, yang tidak satu pun dari Anda pernah melihatnya dalam media mainstream, seperti telah dikatakan Senator Black.

Bremer Lakukan Pekerjaan Kotor

Setelah invasi ke Irak, Perserikatan Bangsa-Bangsa, atas desakan Tony Blair dan George Bush kala itu, mengirim apa yang kita sebut komisi investigasi yang disebut UNSCOM, dipimpin seorang warga Swedia, Hans Blix, seorang ilmuwan yang diminta menemukan senjata-senjata pemusnah massal di Irak. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada apa yang disebut komunitas internasional bahwa invasi ke Irak berlandaskan fakta-fakta! Ada senjata-senjata pemusnah massal di Irak, dan kami harus menemukannya dan menunjukkannya kepada komunitas internasional!

Jadi mereka membentuk komisi investigasi ini dan mengirimkannya ke Irak. Tentu saja, bila saya mengatakan “komisi,” yang dimaksud adalah ratusan orang, yang semuanya dibayar menggunakan dana pemerintah Irak, aset-aset Irak yang dibekukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Miliaran dollar dihabiskan untuk aktivitas-aktivitas komisi ini, biaya yang ditanggung oleh rakyat Irak. Komisi itu menghabiskan—berapa lama ?—sejak tahun 2003 atau bahkan sebelumnya, sampai tahun 2008; Tahun 2008 mereka sudah hampir menutup akte tersebut, karena kebohongannya sudah terlalu besar untuk ditelan.

Jadi mereka berkumpul di Dewan Keamanan PBB dan meminta komisi untuk  menyodorkan laporan akhirnya. Tapi bagian yang konyol dari cerita ini adalah, di mana laporan akhir ini tidak sedikit pun memiliki petunjuk, bahwa Irak memiliki senjata-senjata pemusnah massal. Tapi Komisi tidak akan mampu mengatakan “Maaf Gentlemen, anggota-anggota Dewan Keamanan PBB, kami tidak menemukan apa-apa di Irak.” Itu akan bertentangan dengan propaganda yang disebarluaskan oleh George Bush dan Tony Blair di media-media mainstream kala itu.

Jadi semua di Dewan Keamanan PBB berada dalam tekanan. Mereka harus mengakhiri akte itu! Karena itu menjadi terlalu mahal, dan tiba waktunya untuk mengakhiri seluruh cerita ini. Apa yang harus dilakukan?

Mereka menggelar pertemuan Dewan Keamanan PBB—pada tengah malam. Tengah Malam. Tidak ada siapa-siapa, selain ke-15 anggota Dewan Keamanan PBB. Setelah beberapa menit, ketua mengakhiri pertemuan itu, dan mengatakan: “Kami mendukung laporan komisi” – tanpa mengatakan apa pun —apakah mereka menemukan sesuatu atau tidak menemukan sesuatu. Tema itu mati.

Sekarang: Apa yang harus dilakukan dengan arsip-arsip dari komisi tersebut? Arsip-arsip ini adalah skandal besar. Dewan Keamanan PBB memutuskan – Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, dengarkan saya baik-baik – untuk menempatkan seluruh arsip dalam kotak-kotak besi, tahan api, dengan kunci-kunci, kunci-kunci digital yang hanya Sekretaris Jendral PBB mengetahui kode-kodenya. Itu adalah Nomor 1. Nomor 2: Kotak-kotak terkunci ini tidak akan terbuka kembali sampai 60 tahun dari sekarang. [Pengunjung bergumam.] Saya yakin, Anda belum pernah mendengar kisah ini. Tidak seorang pun akan menceritakan kisah ini kepada Anda. Ini adalah apa yang terjadi. Inilah cara mereka mengubur investigasi tentang mengapa Irak diinvasi! Dan sekarang, tidak ada seorang pun dari kita dalam ruangan ini mampu menunggu sampai 60 tahun untuk mengungkap bahwa sebuah kebohongan besar terjadi kala itu. Akan menjadi terlalu lambat untuk membawa mereka yang bertanggung jawab, para pelaku ke pengadilan. Pada saat itu tidak akan ada lagi George Bush; tidak akan ada lagi Tony Blair.

Yang akan ada tinggal tiga juta warga Irak yang terbunuh; satu juta janda warga Irak; jutaan warga Irak tanpa ayah; jutaan pengungsi Irak di seluruh dunia. Dan seluruh Irak dihancurkan!

Dan, ratusan miliar dollar—aset-aset Irak di luar negeri musnah. Lenyap. Tidak ada yang tahu, di mana uang itu berada. 800 juta dollar – ini baru di Libya.

Hasil dari invasi terhadap Irak adalah pembunuhan jutaan warga sipil seperti sudah saya katakan, penghancuran infrastruktur, dan memiliki negara yang bobrok di sana. Dan yang lebih penting, mengubah Irak menjadi poros terorisme jihadis internasional.

Saya mengatakan ini karena semua dari apa yang disebut ISIL, semua dari mereka, tumbuh berkembang dalam penjara-penjara Amerika di Irak. Semua dari mereka. Mereka diawasi oleh tentara-tentara Amerika di Irak: Jadi mereka mengetahuinya, mengetahui betapa berbahayanya mereka, dan mereka tidak melakukan apapun untuk mengatasinya. Mengapa? Karena Mr. Bremer [Pimpinan Administrasi Pendudukan AS] bersikeras untuk memilah-milah Irak pada basis konfesional, aliran kepercayaan dan agama. Warga-warga Irak telah hidup berdampingan selama ribuan tahun, sampai Mr. Bremer datang, dan menyimpulkan bahwa mereka seharusnya tidak terus hidup seperti ini. Kita harus memilah negara itu, kita harus memberikan satu bagian kepada Sunni, bagian lainnya kepada Syiah, kemudian satu bagian kepada Kurdi, bagian lainnya kepada Assurah, dst. dst. Apakah itu bukan cara untuk mengatakan kepada warga Irak, bahwa mereka konyol dan bodoh karena hidup berdampingan selama ribuan tahun sebelum Bremer datang?

Hari ini, setelah enam tahun, negara saya Suriah masih menderita akibat perang teroris yang paling brutal dalam sejarah manusia modern. Perang barbar yang tiada bandingannya ini mencerminkan kenyataan pahit, bahwa terorisme masih diistimewakan dengan tempat-tempat persembunyian yang aman, sumber-sumber keuangan, dukungan sejumlah pemerintahan terkenal, dan pertumbuhan ideologi teroris dan penyusupan teroris di seluruh dunia. Mengapa saya mengatakan ini? Karena tidak sebegitu mudah bagi seorang teroris untuk meninggalkan Sydney, Australia, melakukan perjalanan dengan pesawat,— tiga kali ganti pesawat, mendapatkan lima visa – visa untuk Thailand, visa Indonesia, visa Kamboja, apa lagi lainnya— dan kemudian sampai ke bandara Istanbul di Turki. Kemudian, sekelompok orang akan datang untuk menyambut kedatangannya, dan menemaninya ke perbatasan Turki dengan Suriah. Lalu seseorang akan memberinya uang dan persenjataan, dan memfasilitasinya untuk memasuki Suriah.

Kriminal-Kriminal dengan Tiket Satu Jalan

Ini bukan seorang turis! Ini adalah seorang teroris yang sudah diketahui sebelumnya oleh dinas-dinas intelijen Australia, sebelum ia meninggalkan negara itu!

Sayangnya, sejumlah pemerintahan memperhitungkan itu, Anda tahu, kami memiliki sampah-sampah ini dalam masyarakat kami. Mari kita mengekspornya ke Suriah. Mari kita mengatasi sampah-sampah ini dengan mengirimkannya ke Suriah dan Irak, di mana mereka akan membunuh warga-warga Suriah, dan, mungkin, mereka sendiri juga terbunuh oleh warga-warga Suriah. Tapi akhirnya, kami dapat lepas dari mereka, mereka hanya menjadi beban bagi masyarakat kami.

Masalahnya dimulai ketika para teroris ini tidak hanya membunuh warga-warga Suriah dan Irak, melainkan sejumlah dari mereka berubah pikiran dan ingin kembali ke Australia, Belgia, Paris, London, Jerman, Amerika Serikat, Kanada,— dan itu adalah masalah besar, karena skenarionya berbeda total. Sampah-sampah itu seharusnya tidak kembali lagi, itu gagasan awalnya. Tapi mereka mulai kembali lagi. Dan demokrasi Barat tidak mampu mencegah mereka melakukan itu. Jadi apa solusinya? Solusinya adalah, Perdana Menteri Inggris, Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Belgia, Presiden Perancis, memutuskan untuk mencabut kewarganegaraan teroris-teroris ini, jika mereka sampai berani datang kembali.

Apa artinya itu? Itu artinya, kalian tahu orang-orang, lanjutkan terus membunuh warga Suriah sampai kalian sendiri terbunuh. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun untuk kembali lagi. Dan inilah apa yang sedang terjadi di Suriah. Mereka tidak dapat kembali ke tempat mereka berasal, karena mereka kehilangan hak-hak kewarganegaraannya.

Ketahuilah bahwa para perdana menteri yang telah saya sebutkan ini, tidak mengatakan bahwa jika teroris-teroris ini sampai kembali, kami akan membawa mereka ke pengadilan: mereka tidak mengatakan itu. Kami akan menuntut tanggungjawab mereka – tidak, mereka tidak mengatakan itu. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya – mereka tidak mengatakan itu. Jadi mereka tidak mengatakan bahwa orang-orang ini adalah teroris. Mereka mengatakan, “Jika kalian kembali, kami akan mencabut kewarganegaraan kalian,” artinya, “Kamu adalah teroris yang baik. Selama kamu melanjutkan membunuhi warga Suriah, kamu adalah seorang teroris yang baik. Tapi jika kamu berpikir untuk kembali ke Paris, Brussel, Sydney, atau entah mana – maka kamu akan menjadi seorang teroris yang buruk.”

Kemarin, ketika saya membaca undangan Anda untuk acara luar biasa ini, saya merenungkan banyak ide yang mulia, terutama tentang masa depan yang lebih baik bagi bangsa kami, jauh dari peperangan dan konflik—terutama kata-kata dari Friedrich Schiller, inspirator dari Schiller-Institut, dan saya mengutipnya: “Untuk yang lebih baik kita dilahirkan.”

Sayangnya, kembali, apa yang hari ini terjadi di negara saya, Suriah, justru kebalikan total dari prinsip-prinsip manusia yang luar biasa ini. Orang-orang Suriah menderita, sampai momentum ini, akibat terorisme yang didukung oleh rezim-rezim negara-negara terkenal, seperti Qatar, Turki, Perancis, dan keluarga Wahhabi Arab Saudi. Saya tidak perlu mengingatkan Anda di sini tentang peran mendasar keluarga Saudi dalam mendukung dan mendanai teroris-teroris yang melakukan kejahatan brutal 9/11 (11 September), seperti telah saya sampaikan di awal. Tapi jangan lupa peran berbahaya dari pemimpin-pemimpin agama (klerik) pra-sejarah mereka, yang masih menginspirasi teroris-teroris dengan ide-ide jihad dan kebencian terhadap agama-agama dan etnis-etnis lain, di seluruh dunia.

…Prinsip-Prinsip Sakral (Pengalaman di Indonesia)

Kisah lainnya—Maaf, saya seorang penyampai cerita. Saya sedang menjadi duta besar negara saya untuk Indonesia, negara muslim terbesar di dunia—235 Juta warga Muslim di satu negara. Tapi negara ini terdiri dari 17.000 pulau; inilah mengapa kita menyebutnya Malay Archipelago. Itu bukan sebuah pulau, itu adalah kepulauan, jumlah sangat besar dari pulau-pulau.

Saya sudah menyampaikan kisah ini kepada Senator Black dalam salah satu pertemuan kami. Ketika saya pertama kalinya tiba di Jakarta, saya dikejutkan di mana setiap Jumat, setelah sholat, ribuan anak-anak perempuan dan perempuan muda berkumpul di depan gedung Kedutaan Besar Saudi di Jakarta. Saya bertanya kepada Duta Besar Saudi, “Apa yang terjadi Duta Besar? Mengapa orang-orang ini berkumpul di depan kedutaan Anda?”

Ia berkata, “Anda tahu, Duta Besar, orang-orang ini membuat saya benar-benar sakit kepala setiap Jumat. Mereka berkumpul, semua perempuan ini yang sedang menggendong bayi dan menyerukan slogan-slogan, menuntut hak-hak mereka dalam bahasa lokal mereka,“ sesuatu yang tidak dapat saya mengerti pada saat itu.

Tapi semua perempuan ini menjadi korban dalam cara ini: Ada pebisnis-pebisnis Saudi dan pemimpin-pemimpin agama (klerik) Saudi yang datang ke Indonesia untuk bisnis, untuk jangka waktu pendek,—mereka menghabiskan waktu dua puluh hari, sampai maksimal satu bulan di sana. Jadi karena mereka sebegitu relijius, mereka perlu melakukan seks dengan perempuan-perempuan di Indonesia. Bagaimana mereka dapat melakukannya? Mereka pergi ke desa-desa kecil di Indonesia, desa dari orang-orang yang sangat miskin—orang-orang yang amat sangat miskin, tapi orang-orang yang benar, jujur; dan mereka menikahi anak-anak perempuan, berusia 12 tahun atau 13 tahun, dan uang nikah mereka hanya 100 dollar. Jadi mereka memberi ayah (anak perempuan itu) 100 dollar dan ayah itu memberikan kepada mereka anak perempuannya, berpikir bahwa memberikan anak perempuannya kepada seseorang yang datang dari Tanah Suci Islam, itu sendiri adalah hal yang berharga.

Pria tersebut menggunakan anak perempuan itu selama 20 hari, dua minggu, tiga minggu,—dan kemudian menceraikannya sebelum bertolak pergi, karena ia tidak memerlukannya lagi!

Anak perempuan itu menemukan dirinya hamil. Setelah 9 bulan, ia punya bayi, tapi bayi itu tidak memiliki ayah,—jadi tidak ada surat-surat, tidak ada identitas, ia tidak dapat meregistrasi bayi itu! Ribuan perempuan muda Indonesia mengalami situasi ini setiap tahun!

Saya berbicara dengan Duta Besar itu: “Anda seharusnya melakukan sesuatu. Ini buruk untuk citra Anda,—Maksud saya, Anda tidak dapat membiarkan ini berlanjut.” Ia mengatakan kepada saya, “Anda tahu Bashar, di kedutaan, saya punya seseorang yang disebut atase agama,” artinya seseorang yang bertanggung jawab untuk masalah relijius/agama, seperti atase ekonomi, atase budaya, atase militer,—mereka memiliki posisi spesifik ini yang disebut “atase agama.” “Dan atase agama ini lebih berkuasa dibanding saya!” Inilah apa yang dikatakannya, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya adalah Duta Besar, tapi saya tidak dapat melakukan apa pun untuk menghentikan penyedotan darah (hemorrhage) ini.” Itu pada tahun 1999.

Dan pada waktu itu, rezim Saudi telah mengeluarkan dana 3 Miliar dollar untuk mendidik imam-imam Wahhabi di Indonesia: 3 Miliar dollar per tahun untuk mendidik imam-imam Wahhabi Indonesia di desa-desa kecil. Inilah mengapa, sayangnya, pada saat ini, di Asia Tenggara kita sekarang memiliki ISIL yang sama seperti yang kita miliki di Timur Tengah,—mereka juga memilikinya di sana. Mereka telah melancarkan serangan bom di Bali, jika Anda mengingatnya, dan rangkaian serangan ledakan di hotel berbintang lima di Jakarta. Inilah apa Saudi-Saudi itu.

Saya sendiri Muslim, saya bangga menjadi seorang Muslim, tapi saya tidak ada hubungannya dengan sampah ini. Tidak ada.

Kami menaruh harapan-harapan untuk peraturan yang diputuskan di Dewan Perwakilan AS kemarin dan telah disetujui di Senat, yang mengijinkan keluarga-kelurga dari para korban 9/11 untuk menggugat keluarga Kerajaan—Kerajaan, dari Arab Saudi, [tawa pengunjung] di pengadilan-pengadilan Amerika Serikat. Anda tahu keluarga Kerajaan ini, dan apa yang mereka lakukan dalam hotel-hotel di California dan New York.

Kami mengharap bahwa itu akan menjadi haluan baru dalam politik luar negeri AS dalam rangka memerangi terorisme internasional dan menuntut tanggungjawab dari pihak-pihak/orang-orang. Lebih jauh, perang teroris melawan Suriah ini didukung oleh politik-politik negara-negara Barat—dipimpin oleh pemerintahan AS dan Inggris—berlandaskan pelanggaran hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, tidak menghormati kedaulatan negara tersebut, dan bertindak melawan keinginan dan kepentingan orang-orang Suriah.

Senator Black sudah membahas tentang isu ini, tapi saya ingin menambahkan sebagai berikut: Bahwa sejak dimulainya krisis Suriah, tahun 2011, Dewan Keamanan PBB menyetujui dan menerima 16 resolusi bagi Suriah. Sekarang kami memiliki 16 resolusi yang diterima oleh DK PBB untuk Suriah. Semua resolusi ini dimulai dengan paragraf Pembukaan: “Dewan Keamanan PBB menekankan kembali kedaulatan Suriah, integritas teritorial Suriah, kemandirian politik Suriah, prinsip tidak mencampuri urusan-urusan domestik Suriah …” Semua ekspresi-ekspresi indah Tom and Jerry ada dalam paragraf pertama dari setiap resolusi! Dan siapa yang melanggar prinsip-prinsip ini, prinsip-prinsip suci ini,—orang-orang yang sama yang menyetujui resolusi-resolusi itu! Orang-orang yang berpengaruh di Dewan Keamanan PBB adalah mereka yang melanggar tatanan kata-kata indah ini.

Investigasi PBB

Kisah lainnya. Saya selalu menyampaikan cerita-cerita dalam pertemuan saya, pada suatu hari di Jenewa, ketika saya sedang memimpin delegasi pemerintah Suriah dalam pembicaraan intra-Suriah dengan utusan khusus Sekjen PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, ia menyebut saya penyampai cerita. Jadi kisahnya begini, dan ini adalah satu yang sangat, sangat penting.

Saya akan menyampaikan kepada Anda kisah ini secara kronologis, dimulai pada bulan Oktober 2012, jadi Anda akan mengerti pesannya. Serangan pertama di Suriah menggunakan gas beracun berlangsung lima bulan kemudian di Khan al-Assal, sebuah kota kecil dekat Aleppo pada Maret 2013. Tapi bulan Oktober 2012, sejumlah dari mereka, yang disebut secara umum “Aktivis-aktivis oposisi Suriah,” membentuk dan mendirikan, di Turki, sebuah kantor yang mereka namakan “Kantor Dokumentasi tentang Penggunaan Senjata-Senjata Kimia di Suriah.” Mereka mendirikan kantor ini lima bulan sebelum apa pun yang berkaitan dengan isu senjata-senjata kimia terjadi di Suriah. Dan secara tiba-tiba, Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, memberikan kepada kantor organisasi non pemerintah ini status konsultatif, yang berarti mendukung kantor/pusat ini sebagai sebuah badan konsultatif OPCW untuk isu-isu kimia.

Kami tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu, karena kami tidak memperkirakan bahwa sesuatu akan terjadi lima bulan kemudian. Selanjutnya bulan Maret 2013, mereka menyerang Khan al-Assal di Aleppo, menggunakan gas kimia, dan mereka membunuh 18 tentara Suriah. Tentu saja, CNN tidak akan menyebut tentang itu. Tapi 18 tentara Suriah tewas tercekik gas dalam serangan ini.

Secara segera Al Jazeera, stasiun penyiaran Qatar, mulai menyebarkan desas-desus bahwa militer Suriah telah menggunakan senjata-senjata kimia. Jadi militer Suriah menggunakan senjata-senjata kimia menyerang dirinya sendiri. Militer Suriah membunuh 18 tentara dan itu adalah tentara-tentara dari pasukannya sendiri!

Secara simultan, berlangsung serangkaian serangan serupa di Suriah. Saya memiliki nama-nama; Anda tidak akrab dengan nama-nama itu, jadi saya tidak akan masuk ke dalam rincian. Carla da Ponte, seorang lady dari Italia yang merupakan anggota Komite Investigasi Independen PBB untuk Suriah mengatakan, adalah kelompok perpanjangan tangan dari oposisi bersenjatalah yang menggunakan senjata-senjata kimia dalam serangan terhadap kota Khan al-Assal di Aleppo. Seorang wanita Italia mengatakan hal itu; dan ia secara langsung dipecat.

Garis Merah Obama

Kemudian kita tiba pada kisah dari Garis Merah, Garis Merah Presiden Obama. Karena kembali, setelah serangan terhadap Khan al-Assal ini, saya mendapat instruksi-instruksi pada hari yang sama saat serangan itu terjadi—hari yang sama, 8 jam setelah insiden itu berlangsung—Saya sendiri yang pergi ke kantor Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Saya memintanya untuk membantu pemerintah Suriah dalam (a) memverifikasi apakah senjata-senjata kimia digunakan atau tidak digunakan di Khan al-Assal dan (b) mengidentifikasi pelaku-pelakunya. Ini adalah apa yang saya minta sendiri kepada Ban Ki-moon pada hari itu.

Pria itu sangat sopan, seperti Anda tahu. Ia meminta saya untuk memberinya waktu guna berkonsultasi dengan orang-orang baik di Dewan Keamanan. Jadi ia berkonsultasi dengan orang-orang baik tersebut dan dua atau tiga jam kemudian, dia kembali untuk mengatakan kepada saya berikut ini: “Bapak Duta Besar, sampaikan kepada pemerintah Anda bahwa saya akan membantu negara Anda dengan verifikasi untuk membuktikan apakah senjata-senjata kimia telah atau tidak digunakan di Aleppo. Tapi maafkan saya, saya tidak dapat membantu Anda dalam mengidentifikasi pelaku-pelakunya.”

Dari Hari Pertama, mereka tahu siapa yang melakukannya! Tapi mereka tidak ingin untuk mengungkap identitas dari para pelaku.

Kami mengatakan, “Ya, Anda tahu Bapak Sekretaris Jenderal, membantu kami dalam memverifikasi senjata-senjata kimia digunakan atau tidak.” Ia membutuhkan waktu empat bulan dan 11 hari untuk mengirimi kami sebuah tim investigasi, yang dipimpin ilmuwan terkenal Swedia Dr. Ake Sellström. Ia dan Dewan Keamanan PBB membutuhkan waktu empat bulan dan sebelas hari untuk mengirim sebuah tim guna menginvestigasi apakah senjata-senjata kimia digunakan di Aleppo. Anda tahu bahwa dengan jenis senjata ini, bekas-bekasnya menguap. Anda tidak dapat membuktikannya setelah beberapa hari; mereka tidak ada di sana.

Yang lebih penting lagi, setelah empat bulan dan sebelas hari, Dr. Sellström tiba di Damaskus pada tanggal 18 Agustus dan Presiden Obama menyampaikan pidatonya dan menarik “Garis Merah” — itu adalah pada tanggal 20 Agustus. Dr. Sellström sedang berada di Damaskus saat itu, dalam perjalanannya menuju Aleppo untuk melakukan investigasi apa yang telah terjadi di Khan al-Assal. Ia masih berada di pintu hotel di Damaskus, berjalan menuju mobilnya. Tiba-tiba, kami mendengar bahwa serangan kimia lainnya berlangsung di kawasan dekat Damaskus. Tiba-tiba, secara kebetulan, serangan lain terjadi di kawasan-kawasan dekat Damaskus!  Itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari Khan al-Assal ke tempat lain, karena awalnya, mereka tidak ingin siapa pun menginvestigasi apa yang terjadi di Khan al-Assal. Jadi cara terbaik untuk melakukannya, adalah menggeser fokus perhatian, untuk menciptakan sorotan perhatian lainnya di suatu tempat lain!

Dan siapa yang telah melakukannya? Bacalah jurnalis-jurnalis Perancis, Christian Chesnot dan Georges Malbrunot, yang mempublikasikan sebuah buku penting di tahun 2014 yang mengulas masalah ini, The Roads to Damascus: The black file of Franco-Syrian relations (Jalan menuju Damaskus: Akte hitam hubungan-hubungan Franko-Suriah), yang menunjukkan bagaimana (istana) Elysée memanipulasi laporan-laporan senjata-senjata kimia.  Dalam buku ini, mereka menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius, berada di balik serangan ini. Itu adalah buku Perancis—tapi CNN tidak pernah membahas tentang itu, tidak akan pernah mengatakan apa pun tentang itu. Anda tidak akan pernah mendengar apa pun tentang isu-isu ini dalam media mainstream, karena itu akan menyokong keakuratan dari pernyataan-pernyataan kami.

Maka,—tidakkah itu sesuatu yang paradoks, di mana Obama mengeluarkan peringatannya dan menarik Garis Merahnya pada tanggal 20 Agustus, dan kemudian, secara kebetulan, serangan-serangan kimia berlangsung di kawasan-kawasan dekat Damaskus satu hari kemudian, pada 21 Agustus? Ibaratnya seseorang mencoba untuk mengatakan, “Anda tahu, Mr. President, mereka melintasi garis-garis itu. Kejar dan hukum mereka! Kejar dan bunuh Presiden Assad! Cara yang dilakukan pendahulu Anda membunuh Saddam Hussein!” Tidakkah itu lucu? Apakah pemerintah Suriah akan menggunakan senjata-senjata kimia sementara Dr. Sellström sedang berada di Damaskus? Maksud saya …

Maaf, mungkin saya berbicara terlalu panjang. Saya akan meringkas. Saya telah mengatakan kepada Anda, saya bisa berbicara berjam-jam tentang itu … [tawa, tepuk tangan.] Saya benar-benar berterima kasih kepada Anda semua karena memberi saya peluang ini untuk membagi sejumlah pandangan dari dalam, sesuatu yang belum pernah Anda dengar.

Saya mencoba yang terbaik, sebagai duta besar negara saya, untuk membagi informasi ini dengan media yang terakreditasi pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tapi Anda tahu apa? Setiap kali saya sampai ke ruangan di sebelah Dewan Keamanan, di mana biasanya ada sekitar 50 sampai 100 reporter/jurnalis dari seluruh dunia yang terakreditasi sebagai reporter dan jurnalis PBB; jika saya mulai berbicara, 50 dari mereka langsung menghilang! [tertawa] Karena mereka tidak mau mendengar, karena mereka tahu apa yang akan saya katakan; mereka tidak mau melaporkannya. Intinya bagi mereka adalah, dengan mendengarkan, mereka akan sedemikian rupa berkewajiban untuk melaporkannya,—jadi cara terbaik untuk menghindari melaporkannya adalah dengan memboikot, dengan tidak berada di sana.

Saya mengatakan ini, karena terlalu banyak orang, terlalu banyak Duta Besar pada Perserikatan Bangsa-Bangsa datang kepada saya dan berkata, “Anda tahu, Bashar, Anda benar. Pemerintah Anda benar. Kami tahu kebenarannya, tapi kami tidak dapat mengatakan itu. Anda bisa—Tuhan memberkati Anda—tapi kami tidak dapat mengatakannya.”

Jadi topeng-topeng telah terlepas. Kebenaran ada di sana. Jika Anda menggali agak dalam, Anda akan menemukan skandal-skandal yang terjadi di Perserikatan Bangsa-Bangsa—skandal-skandal. Itu bukan tempat untuk memelihara kedamaian dan keamanan, itu adalah tempat untuk menghancurkan kedamaian dan keamanan, untuk mendestabilisasi masyarakat. Sangat mudah, sangat mudah di Dewan Keamanan PBB untuk memusnahkan sebuah negara.

Saya berterima kasih banyak. Saya masih punya banyak hal yang belum dikatakan, tapi atas rasa hormat kepada hadirin, saya akan menutup dan mengucapkan terima kasih banyak. [tepuk tangan.]

Sekali lagi, ijinkan saya untuk berterima kasih kepada LaRouche Foundation, teman-teman lama saya di New York. Mereka benar-benar melakukannya dengan luar biasa! Juga tentu saja Schiller Institut dan hadirin yang mengagumkan ini. Saya berterima kasih kepada Anda. Tuhan memberkati Anda.

 

Ditemukan dalam http://lichtweltverlag.blogspot.de/2016/10/syrien-die-maske-fallt-die-wahrheit.html

Diterjemahkan kosmosindo dari sumber-sumber  http://derwaechter.net/syrien-die-maske-fallt-die-wahrheit-kommt-ans-licht ,

Transkripsi Pidato Bashar Ja’afari dalam Bahasa Inggris  http://www.schillerinstitute.org/highlite/2016/0911-ny/bj.html

pada konferensi yang digelar Schiller-Institut

“Securing World Peace Through Embracing the Common Aims of Mankind”
Schiller Institute Conference
Saturday, September 10, 2016, 12 noon – 4:30 pm
New York City

http://www.schillerinstitute.org/highlite/2016/0911-ny/conference-program1.html#bj

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s