Malam Gelap (Depresi) Jiwa

night-sky-1111702_640

The Dark Night of the Soul

Pamela menyalurkan Maria Magdalena

Teman-teman sayang,

saya adalah saudara kalian, saya adalah Maria Magdalena. Saya berada sangat dekat dengan kalian sebagai teman dekat kalian. Saya bukan seseorang yang berada di atas kalian, tapi seseorang yang mengenal kalian dari dalam. Rasakanlah sejenak hubungan kita yang dalam – kita adalah satu, bagian dari keluarga yang sama.

Saya, juga telah menempuh jalan menjadi manusia di Bumi, telah mengetahui dan mengalami kedalaman di sana, dan telah tersentuh oleh Cahaya yang terang dan bersinar yang menginspirasi dan memegang saya, dan mengingatkan saya dan membuat mimpi-mimpi dan kerinduan saya untuk sebuah dunia yang lebih indah dan lebih baik di Bumi. Saya telah mengenal kedua ekstrim-ekstrim, baik Cahaya maupun gelap. Kedua ekstrim tersebut adalah kutub-kutub yang saling memiliki satu sama lain; mereka masing-masing adalah kekuatan yang saling mengendalikan, demikian bisa kalian katakan. Hidup tampaknya merupakan perlawanan; Terang dan gelap. Perasaan yang mereka munculkan tampaknya berlawanan, tapi ada hubungan yang tersembunyi di antara mereka; mereka tidak dapat berfungsi tanpa yang satu dengan lainnya. Mengalami Cahaya hanya dapat dimungkinkan dengan mengalami ketidakhadiran Cahaya, dan dengan mengalami kekontrasan lawannya, kegelapan.

Tidak pernah Cahaya lebih tampak dibanding ketika muncul dari kegelapan. Cukup berpikir tentang sinar-sinar pertama dari Matahari yang menggugah hari, kehangatan cahaya pagi yang menyelimuti dunia. Seberapa dalam itu dapat menyentuh kalian, terutama ketika kalian bangun dari sebuah malam yang dingin, yang gelap. Kekontrasan menciptakan dinamika – hidup, pergerakan, pertumbuhan, perubahan – jadi gelap memiliki sebuah fungsi dalam hidup kita. Namun, manusia sering mengalami gelap sebagai definisi lawan dari Cahaya; bukan sebagai kekuatan yang mengendalikan untuk perubahan dan pertumbuhan, melainkan sebagai sebuah jebakan atau lubang dimana kalian dapat tertangkap dan dimana kalian tidak dapat bergerak lagi. Dari lubang yang dalam itu tampaknya kalian kehilangan hubungan dengan Cahaya, sepertinya itu telah terputus dari kalian.

Kalian semua mengetahui kondisi psikologis terputus dari Cahaya, merasa kehilangan makna dan tujuan dari hidup kalian. Itu pada dasarnya adalah keberadaan mati. Satu-satunya cara yang mungkin untuk mati bukanlah kematian secara fisik, melainkan untuk meredam setiap pergerakan dalam hati kalian, perasaan kalian, pikiran kalian. Dalam realita, kematian tidak eksis; jiwa kalian adalah abadi dan terus hidup. Segala sesuatu yang mati tentang kalian hanyalah bentuk; inti kalian adalah abadi dan tidak dapat mati. Namun, kalian secara temporer dalam kehilangan bagian dari esensi kalian pada sebuah tingkatan, dimana kalian secara batin membeku dan berhenti bergerak. Kalian mati dalam batin dan kalian merasakan depresi secara ekstrim. Ini adalah kondisi yang menyakitkan secara ekstrim.

Pergilah bersama saya untuk sesaat. Turunlah bersama saya ke dalam kondisi yang tertekan itu dan selidikilah itu dengan pikiran yang terbuka. Apa yang terjadi jika seseorang kehilangan semua harapan, terpuruk di pojok, dan merasa tidak berdaya melawan semua perasaan yang muncul dari dalam? Biasanya reaksi ini dipicu oleh peristiwa-peristiwa dari luar yang menimpanya; peristiwa di mana seseorang tidak mampu menempatkan itu dalam kerangka nalarnya, dan yang membuat segala sesuatu dalam hidup orang tersebut menjadi tidak menentu. Itu dapat menyangkut hal-hal yang besar, misalnya kematian seseorang yang dekat, jatuh sakit, kehilangan pekerjaan, atau putus hubungan pribadi. Ini adalah peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi seseorang secara mendalam dan dapat membawa mereka ke ambang kehancuran.

Bagaimanapun, kegelapan kadang-kadang dapat muncul dengan sendirinya dari dalam tanpa penyebab yang jelas. Beban-beban emosional lama yang pernah disimpan dalam memori jiwa kalian, muncul ke permukaan. Pengalaman-pengalaman yang menyakitkan, yang mungkin berasal dari kehidupan-kehidupan terdahulu, mencuat dari kedalaman, dan kalian harus berhadapan dengan perasaan-perasaan gelap, ketakutan-ketakutan dan keraguan-keraguan. Pengalaman yang mendalam akan kekosongan, kesepian, dan ditolak, dapat memasuki psikis kalian tanpa alasan. Mereka dapat menyebabkan kalian kehilangan pijakan sama seperti kejadian eksternal yang terjadi pada kalian.

Jika seseorang terjebak dalam sebuah depresi, dalam suatu malam yang gelap dari jiwanya, ini selalu datang dengan pengalaman merasa dibanjiri dan tidak mampu mengatasi semua emosi tersebut. Arus kesakitan, emosi-emosi berat yang dialami tampaknya terlalu hebat untuk ditanggulangi. Kalian merasa kewalahan olehnya, dan kalian terpuruk dalam suatu perasaan mendalam tidak berdaya. Pada saat kalian berbalik pergi dan menolak untuk menghadapi emosi-emosi, kalian menjadi macet. Emosi-emosi itu ingin mengalir; hal yang penting bagi emosi-emosi dimana mereka terus bergerak, seperti arus gelombang besar menuju pantai. Tapi kalian takut untuk mengijinkannya, jadi kalian menolak untuk mengikuti gerakan itu dan kalian mundur dari emosi-emosi yang membanjiri ini. Kalian membuat bendungan, sebuah batasan dan mengatakan: “Saya tidak dapat menghadapi ini. Saya tidak menginginkan ini. Saya ingin berhenti.” Reaksi kalian, sering dipicu dari ketidakberdayaan murni, menimbulkan depresi, yang merupakan kondisi tidak memiliki perasaan dan menutup diri dari hidup. Seiring jalannya waktu, situasi tersebut menjadi tidak tertahankan dan kalian tidak ingin hidup lebih lama lagi.

Dari perspektif duniawi, kalian ingin mati karena hidup tidak dapat ditolerir. Dipandang dari perspektif jiwa, kalian adalah mati, dan itu terasa sebagai pengalaman yang tidak tertahankan, di mana kalian ingin melakukan segala cara untuk mengakhiri situasi ini. Keinginan untuk mati pada dasarnya sebuah keinginan untuk perubahan, sebuah keinginan untuk kembali hidup. Orang-orang yang ingin melakukan bunuh diri sebetulnya memiliki keinginan untuk hidup, bukan untuk mati. Sebenarnya perasaan menjadi mati dalam batin inilah, yang memicu mereka pada kebingungan yang ekstrim. Desakan mereka untuk hiduplah yang membawa mereka untuk mengakhiri kehidupan fisiknya.

Ketika kalian mengalami depresi, dalam diri kalian ada kombinasi antara penolakan yang dalam dan sekaligus perasaan terluka yang ekstrim. Depresi adalah cara untuk mempertahankan diri kalian sendiri terhadap kekuatan luar biasa dari emosi-emosi yang mengancam membanjiri kalian. Kalian berpikir mereka akan menghancurkan kalian, jadi dalam ketidakberdayaan, kalian membentuk sebuah kulit di sekeliling kalian sendiri; kalian membungkus diri kalian dalam kepompong karena tidak ingin atau tidak dapat merasakan apapun. Kalian tidak ingin lebih lama lagi berada di sini, ibarat peribahasa burung unta yang membenamkan kepalanya ke pasir. Kalian tercekik di dalam pasir dan meskipun demikian tampaknya itu adalah satu-satunya jalan keluar. Dan setelah beberapa lama kalian tidak dapat lagi menarik kepala kalian keluar dari pasir, terjadilah depresi. Kalian menjadi begitu terpisah dari hidup dan dari segala perasaan, sehingga tidak dapat lagi keluar dari krisis dan membawa perubahan; pilihan untuk berkata “ya” kepada emosi-emosi kalian, tampaknya berada di luar kekuatan kalian. Depresi sekarang telah mencapai klimaks.

Di satu sisi kalian tidak dapat menerima emosi-emosi kalian akan ketakutan, kebingungan, kesedihan dan kesepian atau membaginya dengan yang lain, sementara di sisi lain kalian tahu dan merasa, bahwa adalah hal yang tidak tertahankan hidup tanpa emosi-emosi; itu adalah sebuah bentuk kematian, penolakan total terhadap inti kehidupan kalian. Setelah beberapa lama, kalian ingin merasakan kembali. Rasa sakit dari tidak merasakan lebih hebat daripada rasa sakit merasakan emosi-emosi kalian. Itu adalah penyelamatan kalian, dan ini adalah titik balik. Penolakan untuk merasakan, dan mengatakan: “Tidak, saya tidak dapat, saya tidak menginginkannya, saya ingin mati, saya ingin menghilang”, membuat kalian begitu kosong di dalam, sehingga kalian tidak dapat lebih lama mempertahankannya. Apa yang terjadi dari perspektif jiwa adalah hidup menjadi lebih kuat sekarang; saya tidak dapat selamanya terpisah. Bila kekuatan hidup tertahan sedemikian lama, itu menciptakan kekuatan oposisi yang lama-kelamaan meledak. Kekuatan gelombang yang ingin bergerak ke pantai tidak dapat dibendung selamanya. Pada saat tertentu, dari dalam diri kalian muncul sebuah “ya”, juga meskipun kalian tidak menyadarinya. Tidak ada yang statis dalam hidup; desakan untuk hidup tidak dapat dihentikan. Ketika sebuah klimaks telah dicapai, kalian menciptakan peristiwa-peristiwa dalam hidup kalian yang menyediakan perubahan; yang menciptakan sebuah terobosan.

Kadang-kadang ini terjadi dalam bentuk upaya bunuh diri. Jika itu gagal, mungkin ada spiral yang bergerak ke atas karena penderitaan dari orang tersebut menjadi sangat tampak bagi dunia luar. Ketika seseorang mengetahui betapa banyak perhatian orang yang diberikan kepadanya, mungkin timbul keterbukaan untuk lebih banyak Cahaya, dan untuk menerima pengertian dan simpati. Namun, dapat pula terjadi di mana seseorang tidak terbuka dan tetap depresi. Tidak ada resep yang pasti untuk bagaimana terjadinya terobosan. Tapi hidup memiliki kekuatan mendorong dan mengendalikan, yang membuat tidak mungkin untuk selamanya berada dalam kondisi kesadaran yang statis.

Juga meskipun kehidupan duniawi berakhir di mana akhirnya kalian bunuh diri, kalian di alam lain harus segera menghadapi pilihan baru, karena kalian masih akan harus mengalami perasaan-perasaan kalian di sana. Perasaan kalut yang ada ketika kalian hidup, dengan rasa sakit dan ketakutannya, sekarang dapat muncul bahkan secara lebih tajam, dan dalam cara yang kurang terselubung. Kadang-kadang alam astral, yang kalian hadapi segera setelah meninggal, mengkonfrontasi kalian secara langsung dengan emosi-emosi yang kalian tekan, dan melalui ini mereka mulai mengalir lagi. Misalnya, seseorang mungkin merasa bingung dan marah ketika mereka pergi dan menemukan bahwa hidup tidak benar-benar berakhir. Atau mereka melihat emosi-emosi keluarganya di Bumi, kesedihan dan kepiluannya, dan mereka menjadi sangat tersentuh karenanya. Dengan begitu tersentuh, sebuah pergerakan baru dapat terjadi dalam gerakan di dalam jiwa orang yang telah meninggal. Hal ini dapat membawa pada sebuah terobosan, membuat jiwa itu terbuka pada pertolongan dari pembimbing-pembimbing yang selalu ada di sana, baik di Bumi dan di surga. Pertolongan selalu ada, tersedia bagi kalian yang terbuka untuk itu.

Bagaimanapun cara kalian berbalik atau berputar, hidup lebih kuat dari setiap keinginan mati. Hidup selalu menegaskan haknya untuk ada, kalian tidak dapat membunuhnya. Oleh karena itu, selalu ada harapan. Peganglah itu bagi kalian, tapi juga bagi orang lain yang kalian lihat sedang berjuang. Hal-hal kadang dapat terlihat begitu tanpa harapan, tapi selau ada harapan lain, bahkan meskipun kalian tidak dapat membayangkannya dalam pikiran kalian bagaimana itu dapat terjadi dan bagaimana perubahan dapat berlangsung. Hidup selalu lebih kuat dari kematian, Cahaya lebih kuat dari gelap. Air pada akhirnya menerobos melalui bendungan, karena air memliki kekuatan untuk bergerak: ia mendorong, ia hidup! Kekuatan dari air lebih kuat dibanding kekuatan pembendung yang ingin menahannya.

Rasakanlah kekuatan hidup dalam diri kalian untuk sesaat. Masing-masing dari kalian kadang-kadang menemukan bagian-bagian dalam diri kalian yang macet, pola-pola yang terulang dengan sendirinya tanpa akhir: keraguan terhadap diri kalian sendiri, rasa rendah diri, ketidakpastian, tidak percaya, kemarahan, penolakan. Sekarang bayangkan bahwa bagian-bagian itu memang ada di sana, dan pada waktu yang sama, hidup terus berlanjut mengalir di sekelilingnya. Air terus mengalir, dan meskipun masih ada bongkahan batu pada sungai yang tampaknya kokoh dan tidak bergerak, mereka masih terkikis oleh gerakan dan dorongan air yang bergerak melewatinya. Itu membutuhkan waktu, tapi jangan lupa siapa kalian sebenarnya: kalian adalah air yang hidup! Semakin kalian mengingatkan diri kalian akan hal itu, kalian semakin dapat merebut kembali energi dari bongkahan-bongkahan dan batu-batu yang berada di sungai. Masih ada rasa sakit dari masa lalu yang berada di sana. Kalian tidak perlu mengecilkan hal tersebut, atau menganggapnya tidak relevan, tapi kalian juga tidak perlu menggeser bongkahan-bongkahan batu dari sungai. Kalian hanya perlu mengingatkan diri kalian sendiri bahwa kalian adalah air tersebut!

Ini kadang-kadang sulit karena, secara sebagian, kalian telah mengidentifikasi diri kalian dengan bongkah-bongkah batu yang memblokir energi kalian: “Saya seseorang yang tidak benar-benar membumi; Saya punya kesulitan merasa di rumah di Bumi; Saya membawa kesedihan dan trauma-trauma dari masa lalu”. Dan itu semua benar, tapi bayangkan untuk sesaat ide-ide itu ibaratnya kerikil-kerikil atau batu-batu dalam sebuah sungai yang besar, yang lebar – sebuah jalan air yang sangat besar. Karena itulah siapa kalian sebenarnya; itulah kekuatan hidup kalian saat ini. Jiwa kalianlah yang mengalir dan mengalir, selalu di sepanjang jalurnya: hidup, beriak-riak, bergegas dan menderu, mengalami dan menemukan. Aliran itu tidak memiliki penghakiman tentang bongkahan-bongkahan yang ditemuinya, ia membanjirinya. Kalian punya pilihan!

Kalian tidak perlu melakukan segala hal sendirian. Hidup menyediakan kalian dengan peluang-peluang dan kemungkinan-kemungkinan yang tiada habisnya. Kadang-kadang hidup membawa kalian ke dalam lembah yang dalam, yang gelap, tapi hidup juga mengangkat kalian kembali ke dalam Cahaya. Bahkan bila kalian memiliki perasaan tidak mampu lagi lebih lama berjuang, dan kalian tidak dapat melihat bagaimana hal-hal akan pernah berubah menjadi baik, hidup masih membawa kalian. Seni dari hidup adalah untuk merawat kepercayaan kalian, meskipun ketika tampaknya tidak ada lagi yang tersisa untuk percaya, dan ketika segala hal yang pernah pasti bagi kalian, hilang dari kehidupan kalian.

Tentu saja kalian kadang-kadang dengan kesadaran kalian macet dalam blokade sedemikian rupa, ketika kalian mulai mengidentifikasi dengan itu terlalu lama. Tapi kalian dapat melepaskan diri dari blokade tersebut hanya dengan mengalami diri kalian sendiri ibaratnya air yang mengalir. Ingatlah bahwa kalian adalah kesadaran jiwa yang hidup, selalu bergerak dan mengalir dan tidak terikat pada bongkahan-bongkahan batu tersebut – kalian adalah bebas. Semakin kalian dapat menarik kesadaran kalian dari blokade-blokade tersebut, bongkahan-bongkahan batu yang terletak di sana, semakin mudah mereka menyerahkan diri pada aliran. Mereka lepas lebih cepat, karena kalian melepaskan mereka dan mengidentifikasi diri kalian sendiri dengan air yang bergerak. Air adalah jiwa kalian, dan itu tidak dapat ditahan. Rasakan alirannya dan gerakan dan kilauannya. Bayangkan bahwa itu memandikanmu, dan rasakan kekuatan riak-riaknya, Cahaya yang berkilauan di dalamnya. Rasakan bagaimana jiwamu, dalam bagiannya yang terdalam, tidak terancam oleh kegelapan yang kalian alami; oleh semua bongkahan batu yang tampaknya begitu kokoh dan tidak bergerak. Jiwamu sama sekali tidak menghadapi masalah terkait apa yang ada di sana, karena ia tahu bongkahan batu itu ada di sana; mereka adalah bagian dari pemandangan hidup. Cobalah, ketika kalian macet di dalam bongkahan batu semacam itu, untuk mendengarkan air yang mengalir deras. Ingatlah akan air dan kemudahan arus yang mengalir dengannya.

Pada saat ini di Bumi, banyak orang sedang terlibat dalam proses mengolah kegelapan dari masa lampau; bagian-bagian jiwa sekarang sedang menuju Cahaya dan ingin dilihat. Dan mengapa ini terjadi? Karena kalian sedang melakukan lompatan besar ke depan. Ini benar-benar lompatan dalam evolusi kesadaran manusia. Lompatan ini tidak dapat dibuat tanpa menggapai ke tempat-tempat tergelap dalam kesadaran kalian, tempat-tempat yang terisi dengan ketakutan, ketidakpercayaan, atau kesedihan sangat mendalam tentang semua hal yang telah kalian alami di Bumi. Jangan takut akan kegelapan itu – sambutlah itu! Ketika kalian mengatakan “ya” kepada kegelapan, ia mulai lepas dan mengalir, dan itulah seni menjalani hidup dalam kehidupan ini. Dan ketika kalian merasa: “Saya tidak dapat benar-benar mengatakan ya untuk ini”, ingatlah bahwa ada sesuatu dalam diri kalian yang masih mengatakan “ya”. Itulah yang akan menyelamatkan kalian dan membawa kalian lebih jauh – percaya kepada hidup.

Saya mencintai kalian semua, kalian semua kesayangan saya. Mungkin kalian berpikir: “Bagaimana itu bisa? Kamu tidak dapat mengenal kami semua secara pribadi”. Tapi kalian sebagai manusia tidak mengetahui atau menyadari betapa luas sebenarnya jaringan kerja jiwa-jiwa. Ketika kalian terhubung dari jiwa dengan orang lain, itu adalah hubungan yang permanen. Sebuah ikatan yang pernah terjalin tidak akan terpisah oleh waktu, karena dalam dimensi kami di sana tidak ada waktu. Di sana ada jaringan kerja yang hidup yang menghubungkan kita sebagai jiwa-jiwa. Kita membagi sebuah sejarah tertentu, sebuah keinginan tertentu, sebuah api yang pernah disulut dalam kesadaran kita. Dengan api ini Bumi berangsur-angsur menjadi terang. Kebangkitan kesadaran di seluruh manusia membawa kita menjadi bersama dan menciptakan sebuah landasan baru, dari mana lompatan ke dalam kesadaran benar-benar akan terjadi. Kalian tidak perlu berpikir terlalu lama tentang hal ini. Tetaplah melakukan proses kalian sendiri, cara kalian sendiri – itu cukup. Rasakan kekuatan kepercayaan akan hidup, tidak hanya dalam dirimu, tapi juga dalam banyak yang lain, yang mana melalui itu sebuah gelombang kesadaran sedang membanjiri Bumi.

 
© Pamela Kribbe

Diterjemahkan kosmosindo dari sumber www.jeshua.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s