Di Balik Krisis Uang Tunai di India

Terungkap: Pemerintah AS dan Oligarki Keuangan bersembunyi di balik larangan uang tunai di India

Dengan satu pukulan tanggal 8 November 2016 pemerintah India menyatakan kedua uang kertas bernilai terbesar dan dengan demikian lebih dari 80 persen uang tunai India dengan segera tidak berlaku. Hal yang menjadi keanehan, tampaknya tidak seorang pun membicarakannya atau menulisnya, adalah peran menentukan keterlibatan Washington dalam hal ini. Yang mana itu hanya tersembunyi secara selintas.

Oleh Norbert Häring – 3 Februari 2017 (dalam http://www.anonymousnews.ru/)

Presiden Barack Obama telah menyatakan “kemitraan strategis” dengan India menjadi prioritas politik luar negerinya. Yang mana itu menyangkut antisipasi menghadapi Cina. Dalam rangka kemitraan ini organisasi bantuan pembangunan pemerintah AS, USAid, melakukan perjanjian kerjasama dengan kementerian keuangan India. Hal itu juga menyangkut mendesak mundur penggunaan uang tunai di India dan seluruh dunia, demi keuntungan proses pembayaran digital.

Tanggal 8 November 2016 pemerintah India secara mengejutkan dalam satu pukulan menyatakan dua uang kertas terbesar dan dengan demikian lebih dari 80 persen peredaran uang tunai, tidak berlaku. Uang kertas ini hanya dapat dibayarkan untuk waktu terbatas ke dalam rekening bank, sebelum uang kertas tersebut tidak berlaku. Penyerahan uang tunai melalui bank-bank dibatasi secara ketat. Hampir separuh warga India tidak memiliki rekening bank dan sangat banyak yang tidak memiliki akses bank di dekat mereka. Perekonomian sebagian besar berlangsung pada basis uang tunai. Sebagai dampaknya terjadi keterbatasan ekstrim akan uang dan pukulan hebat terutama bagi kelompok masyarakat miskin dan tinggal di pedesaan.
Juga di bulan Desember orang-orang masih menderita parah akibat kurangnya uang dan kesulitan yang ditimbulkannya, membiayai kehidupan mereka dan makanan, serta jasa pelayanan yang penting seperti membayar biaya dokter dan rumah sakit.
Secara umum dampak dari hal itu adalah pada kuartal keempat pertumbuhan ekonomi jauh lebih rendah dibanding kuartal-kuartal sebelumnya. Kekacauan dan penipuan juga masih menguasai pada bulan Desember.

Empat Pekan sebelumnya

Hanya sekitar empat pekan sebelum aksi yang mirip penyerangan ini USAid mengumumkan pendirian “Catalyst: Inclusive Cashless Payment Partnership” untuk penentu membawa maju pembayaran tanpa uang tunai (non-cash) di India. Dalam pernyataan pers dari tanggal 14 Oktober disebutkan, Inisiatif ini “menandai fase berikutnya dalam kemitraan antara USAid dan kementerian keuangan India untuk memajukan inklusi keuangan universal.”

Pengumuman itu tidak (lagi?) muncul dalam daftar pernyataaan pers dari USAid – juga tidak ditemukan, jika orang secara khusus mencari untuk “India.” Orang tentunya mengetahui bahwa itu ada, atau secara kebetulan menemukannya saat mencari di Google. Pengumuman pers ini dan yang lainnya, yang dulu tampaknya membosankan dan hampir tidak menarik perhatian siapa-siapa, setelah tanggal 8 November menjadi jauh lebih menarik – dan mengkhianati.
Selanjutnya dapat diketahui, jika orang membaca pengumuman terkait hal itu, bahwa Catalyst-Initiative dan kemitraan antara USaid dengan kementerian keuangan India, dari mana hal itu berasal, tidak lain selain proyek terselubung untuk mempersiapkan penyerangan November terhadap warga India. Dari Nama Catalyst saja menambah programatik dalam proses tersebut jelas dikenali.

Direktur untuk Proyek-Inkubasi dari Catalyst adalah Alok Gupta, yang sampai saat itu Chief Operating Officer dari World Ressources Institute di Washington, yang pemberi dana terbesarnya termasuk USAid. Ia adalah anggota tim awal dari Unique Identification Authority of India, yang – di bawah aspek Big-Brother mengerikan – mengembangkan sistem identifikasi biometris Aadhaar. Menurut sebuah laporan Economic Times India, USAid diwajibkan membiayai Catalyst selama tiga tahun. Berapa banyak uang yang mengalir ke situ, tetap dirahasiakan.

Badal Maluick, CEO dari Catalyst sebelumnya adalah wakil presiden platform pasar online terbesar India Snapdeal. Ia mengatakan untuk pembentukan Catalyst:

Kutipan: “Misi dari Catalyst adalah menyelesaikan masalah koordinasi multiple (berkelipatan), yang menembus pembayaran digital yang terblokir di kalangan para pedagang dan konsumen dengan pendapatan rendah. (…) Pemerintah memang telah (…) mendorong pembayaran digital dalam aksi yang terkonsentrasi, tapi masih ada masalah bagian terakhir, jika itu menyangkut penerimaan di pihak pedagang, dan masalah-masalah koordinasi. Kami ingin menghadapi masalah-masalah ini dengan tindakan ekosistem holistik.”

10 bulan sebelumnya

Masalah koordinasi berkelipatan (multiple) yang disebutkan di sini dan ekosistem uang tunai yang kokoh sebelumnya telah diolah dalam sebuah laporan, yang diberikan pada tahun 2015 dalam rangka Kemitraan Anti Uang Tunai antara USAid dengan kementerian keuangan India dan diperkenalkan pada bulan Januari 2016. Pernyataan pers untuk itu juga tidak (lagi?) terdapat dalam daftar pernyataan pers dari USAid. Judul studi tersebut adalah “Beyond Cash”.

“Pedagang dan konsumen terperangkap dalam ekosistem pembayaran tunai, yang menghambat minat mereka (terhadap proses tidak menggunakan uang tunai)”, disebutkan di dalamnya. Dengan kata lain: karena sedikit pedagang yang menawarkan pembayaran non-cash, sedikit pelanggan yang berminat untuk itu dan karena sedikit pelanggan yang memiliki kartu (pembayaran) dan ingin membayar dengan itu, sedikit pedagang yang berminat akan (pembayaran dengan kartu) itu.
Ditambah lagi: Bank-bank dan jasa pelayanan pembayaran menyodorkan rekening pembayaran bagi para pedagang untuk keikutsertaan pertama kalinya pada biaya alat, sehingga para pedagang ini enggan menawarkan pembayaran digital, selama permintaan untuk itu rendah. Jadi perlu impuls dari luar untuk bisa menembus untuk penggunaan kartu, yang sekaligus menaikkan penawaran dan permintaan pada tingkat yang lebih tinggi untuk kemungkinan pembayaran digital.

“Tindakan Ekosistem” yang diumumkan oleh CEO Catalyst untuk mencapai impuls ini, terdiri dari, seperti yang baru terbuka pada bulan November lalu, dengan satu pukulan untuk waktu yang terbatas, menghancurkan ekosistem uang tunai dan kemudian secara bertahap mengeringkannya, a.l. melalui pembatasan pembayaran uang tunai. Karena aksi itu harus dilaksanakan dengan cara penyerangan, untuk mengembangkan secara penuh pengaruh katalistisnya, tentu saja studi yang diumumkan maupun Kelompok Catalyst tidak dapat membeberkan secara terbuka apa yang direncanakan. Trik yang lihai di mana rencana-rencana sebetulnya dapat terselubungi, terdiri dari selalu hanya mengumumkan percobaan lapangan secara regional. Ini mengijinkan, secara terbuka memajukan pekerjaan penelitian dan persiapan dan bahkan melakukan pendengaran para pakar.

“Tujuannya adalah mengambil sebuah kota, dan di sana meningkatkan 10 kali lipat proses pembayaran digital dalam waktu satu tahun,” kata Maluick masih pada tanggal 14 Oktober dalam pengenalan dari Catalyst. Agar mereka dalam penelitian dan persiapan tidak harus membatasi hanya pada satu kota, laporan Beyond-Cash dan Catalyst bertindak seolah-olah mereka menyelidiki di kawasan dan kota yang berbeda-beda, untuk kemudian memilih kota atau kawasan yang paling cocok untuk percobaan lapangan. Bulan November kemudian disimpulkan, bahwa seluruh India harus menjadi kawasan eksperimen untuk suatu Inisiatif global. “India adalah front terdepan upaya-upaya global, untuk mendigitalisasi perekonomian negara”, demikian dikatakan Duta Besar AS Jonathan Addleton, Direktur Misi USAid di India, dalam pengenalan dari Catalyst empat pekan sebelum diumumkannya pengungkapan sandi tersebut.
Organisasi-organisasi yang terlibat adalah kenalan lama

Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam inisiatif ini? “Lebih dari 35 organisasi-organisasi penting India, Amerika dan internasional telah bergabung dalam Initiative dari USAid dan kementerian keuangan India,” tulis USAid dalam pengenalan Laporan Beyond-Cash. Pada situs Catalyst orang dapat membaca, siapa saja itu. Mereka secara utama perusahaan IT dan transportasi pembayaran, yang ingin meraih pendapatan uang dari pembayaran digital dan dengan data pengguna yang terkait dengannya.
Ada banyak kenalan lama dari “lingkungan keuangan yang berminat memerangi uang tunai” antara lain Better Than Cash Alliance, Gates Foundation, Omidyar Network (eBay), Dell Foundation, Mastercard, Visa, PMB Metlife Foundation.

Better Than Cash Alliance

Better Than Cash Alliance yang di dalamnya juga termasuk USAid, tidak secara kebetulan berada paling depan. Sejak tahun 2012 aliansi itu ada. Sekretariatnya mewakili United Nations Capital Development Fund (UNCPD) di New York, yang bisa jadi ada kaitannya, di mana organisasi kecil PBB yang miskin ini dalam dua tahun sebelumnya boleh menyebutkan satu kali Yayasan Gates dan satu kali Yayasan Master-Card sebagai penyumbang terbesarnya.

Anggota-anggota kelompok itu, yang masuk untuk mendesak mundur uang tunai di seluruh dunia, adalah institusi-institusi besar AS, yang kebanyakan menarik keuntungan dari penghapusan uang tunai, jadi Visa dan Mastercard, serta organisasi-organisasi AS yang dalam buku-buku tentang sejarah dinas rahasia AS terutama sering muncul, seperti Ford Foundation dan tentu saja USAid, selain itu bank besar AS Citi, serta paling depan Bill dan Melinda Gates Foundation (Microsoft). Juga Omidyar Network dari pendiri eBay Pierre Omidyar juga terdapat di antara para sponsor. Hampir semua organisasi ini adalah – seperti halnya Alliance itu secara keseluruhan – mitra dari USAid-Initiative yang aktual melawan uang tunai India. Pada dasarnya inisiatif ini dan program terselubung yang berasal darinya tidak lebih selain perusahaan-perusahaan India dan Asia lainnya yang merupakan perluasan dari Better Than Cash Alliance, dengan minat bisnis besar mendesak mundur uang tunai.

Tokoh ternama di balik layar: IMF Chicago Boy Raghuram Rajan

Kemitraan untuk persiapan penghapusan uang tunai (sementara) di India berlangsung bersamaan dengan masa jabatan kepemimpinan Bank Sentral India sebelumnya, Raghuram Rajan dari September 2013 sampai September 2016. Rajan (53) sebelumnya dan sekarang kembali menjadi profesor ekonomi pada Universitas Chicago. Ia pada tahun 2003 sampai 2006 adalah kepala ekonomi pembangunan pada Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington. (Ia bersama dengan Ken Rogoff, pejuang lainnya yang menarik keuntungan dari penghapusan uang tunai). Ia adalah anggota kelompok yang berkantor di Washington Group of Thirty, organisasi yang sangat dipertanyakan, di mana wakil-wakil dari institusi keuangan besar swasta, di balik pintu tertutup dengan tokoh puncak dari bank-bank sentral melakukan persetujuan. Dugaan yang sudah lama saya miliki dan paparkan, bahwa Group of Thirty adalah suatu instansi pengendalian pusat peperangan di seluruh dunia melawan uang tunai, semakin mendapat konfirmasi.
Keanggotaan dalam kelompok itu Rajan bersama dengan tokoh-tokoh sentral kampanye anti uang tunai, di antaranya Rogoff, Larry Summers dan Mario Draghi.

Rajan memiliki segala harapan, masih akan menjadi sesuatu yang sangat besar dan oleh karena itu memiliki semua alasan untuk memainkan dengan baik permainan Washingtion. Ia telah menjadi Ketua American Finance Association dan penerima penghargaan pertama dari asosiasi itu berupa hadiah Fisher-Black untuk penelitian keuangan. Juga Penghargaan Infosys yang bernilai tinggi untuk ilmu ekonomi dan Penghargaan Deutsche Bank untuk ekonomi keuangan, serta penghargaan Financial Times / Goldman-Sach untuk buku terbaik ekonomi sudah dikumpulkannya. Selain itu ia juga terpilih sebagai warga India global dari (NASSCOM), serta Bankir Bank Sentral tahun 2015 (Euromoney) dan 2016 (The Banker). Ia dianggap akan berpeluang menggantikan Direktur IMF Christine Lagarde yang mengalami pukulan hebat, tapi ia juga pasti memiliki harapan-harapan beralasan untuk posisi pimpinan global lainnya dalam jajaran kelas paling atas ini.

Sebagai gubernur bank sentral, Rajan disukai dan terpandang dalam sektor keuangan tapi meskipun demikian mantra deregulasi pasar liberalnya tidak disukai dalam ekonomi (yang mengandalkan) produksi dan konsumen. Itu terutama terletak pada kecenderungannya untuk suatu politik keuangan yang restriktif dengan suku bunga yang relatif tinggi. Sehubungan meningkatnya kritik dari jajaran partai pemerintahan ia pada bulan Juni mengumumkan, setelah September tidak akan lagi menyasar masa jabatan kedua. Selanjutnya kepada New York Times ia mengatakan, ia sebetulnya ingin menjabat lebih lama, tapi tidak untuk masa jabatan penuh, tapi untuk itu ia tidak dapat mencapai kesepakatan dengan PM Modi. Mantan menteri perdagangan dan kehakiman Swamy mengatakan tentang mundurnya Rajan, pihak industri di India akan senang, dan:

Kutipan: “Saya ingin dia pergi, dan saya menyatakan sejelas mungkin kepada Perdana Menteri, semampu saya. (…) Publiknya (Rajan) secara utama di bagian barat dan publiknya di India adalah masyarakat yang tertransplantasi menjadi barat. Orang-orang datang kepada saya dalam delegasi-delegasi untuk mendesak saya, agar melakukan sesuatu.”

Bencana dengan Pengumuman

Seandainya Rajan terlibat secara signifikan dalam persiapan kampanye menyingkirkan uang tunai, di mana saya tidak ragu berkenaan hubungan-hubungan pribadinya dan institusionalnya di Washington dan peran utama Bank Sentralnya dalam pengadaan uang tunai, maka ia punya alasan bagus, untuk berada di latar belakang. Itu bukan hal yang mengejutkan, bahwa aksi tersebut akan menjadi bencana buruk bagi sebagian besar warga yang miskin dan termiskin India, di mana inklusi finansial diduga akan membantu.

Akhirnya USAid dan mitra membahas situasi secara intensif dan misalnya dalam Laporan Beyond-Cash disimpulkan, bahwa hampir 97 persen transaksi di India dilakukan dengan uang tunai dan hanya 55 persen penduduk memiliki rekening bank. Bahkan dari rekening bank ini hanya 29 persen “dalam tiga bulan terakhir” digunakan. Hanya enam persen dari pedagang menerima pembayaran tanpa uang tunai (non-cash).

Jadi semua itu diketahui dengan baik, sehingga tidak mengejutkan di mana dengan hasil situasi ini mayoritas penduduk miskin dan sebagian besar produsen dan pedagang kecil memperoleh masalah besar, ketika orang secara tiba-tiba menyatakan kebanyakan uang tunai tidak berlaku. Itu menunjukkan secara jelas, betapa bohongnya mitos dari inklusi keuangan melalui pertukaran pembayaran digital dan pendesakan uang tunai. Justru untuk orang yang miskin di kawasan pedesaan tidak ada teknologi, yang sama mudahnya untuk memungkinkan partisipasi semua dalam proses ekonomi seperti uang tunai.
Tapi bagi Visa, Mastercard dan jasa pelayanan pertukarang pembayaran lainnya, yang sering tidak menanggung masalah yang menghancurkan kehidupan dan eksistensi akibat penghapusan uang tunai, aksi tersebut tentu saja masih menguntungkan. Karena setelah kekacauan yang mengejutkan, yang harus ditanggung setiap orang, yang tidak dapat menerima dan menggunakan uang digital, sekarang tentu saja pelaku perdagangan, yang setidaknya mampu membiayai, akan membeli alat pembaca kartu (pembayaran).

Kepentingan Bisnis AS pada Penghapusan Uang Tunai secara Global

Kepentingan bisnis jasa pelayanan keuangan dan IT perusahaan AS yang mendominasi secara global tentu saja alasan penting, mengapa pemerintah AS dengan ambisi sebegitu besar berusaha mendesak mundur uang tunai di negara-negara lain, tapi bukanlah yang terpenting. Selain itu ada juga motif mengawasi, karena jasa pelayanan AS dan perusahaan AS dapat ikut membaca seluruh transportasi pembayaran lintas batas negara dan hampir seluruh arus (transportasi) data. Ditambah lagi, mungkin yang lebih penting, bahwa setiap pembayaran yang dilakukan melalui sebuah bank atau suatu jasa pelayanan transportasi pembayaran, atas jasa dominasi dollar secara internasional, memperkuat kekuasaan pemerintah AS, untuk menerapkan hukumnya sendiri di seluruh dunia. Untuk memaparkan itu harus akan ditulis dalam artikel lainnya.
Di sini sebagai bukti sebuah link untuk reportase (harian Jerman) FAZ yang muncul baru-baru ini. Di dalamnya sebagai contoh dipaparkan Commerzbank dan seorang karyawan dalam salah satu perusahaan bisnis leasing internasioanl, bagaimana sedikitnya hal itu bermanfaat, dalam bisnis internasional untuk berpegang pada peraturan lokal (negara) dan peraturan internasional, jika pemerintah AS memiliki kecenderungan prioritas dan politis lainnya.
http://www.faz.net/aktuell/finanzen/devisen-rohstoffe/das-indische-bargeld-experiment-14568916.html?printPagedArticle=true#pageIndex_2

Contoh-contoh yang serupa ada banyak. Setiap bank yang beroperasi secara internasional dapat ditekan oleh AS, karena penarikan lisensi untuk bisnis dollar dan bisnis AS akan sekaligus mendatangkan kehancuran. Orang cukup berpikir akan Deutsche Bank, yang berbulan-bulan melakukan negosiasi dengan kementerian keuangan AS, apakah ia membayar 14 miliar dollar dan bangkrut atau membayar 7 miliar dollar dan bertahan hidup. Jika orang dapat membawa bank-bank terbesar setiap negara ke dalam kebangkrutan, makan orang tentu saja dapat menerapkan kekuasaan atas pemerintah-pemerintahannya.
Kekuasaan besar melalui sistem keuangan (digital) ini sekarang pun sudah ada. Semakin sedikit keberadaan uang tunai, semakin besar dan semakin baik jaminan mereka untuk (adanya peluang) reaksi penghindaran menghadapi hal tersebut.

Diterjemahkan kosmosindo dari sumber http://www.anonymousnews.ru/2017/02/03/war-on-cash-washington-steckt-hinter-indiens-brutalem-bargeld-experiment/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s